Trophy
Tempat ini asing, kami layaknya
seorang tamu yang diabaikan. Berdiri di depan ruang tata usaha, melihat orang
lain dengan percaya diri berjalan lalu-lalang di depan kami. Sesekali kudengar
mereka yang lewat mengatakan. “Oh, itu yang dari filial.” Kemudian berlalu.
Layaknya anak hilang, kami diam, berkumpul, celingak-celinguk memperhatikan
sekitar.
Ini adalah momen kelulusan yang tak
menyenangkan.
Banyak kulihat di instagram atau di
film yang genrenya merupakan anak SMA, demikian excited menyambut acara kelulusan untuk penutup luar biasa pengalaman sekolah mereka, dan mempersiapkan banyak hal untuk itu. Berbagai ide muncul di kepala mereka, mengalir deras layaknya air sungai. Mereka membuat dekorasi cantik, mempersiapkan pengisi acara. Juga mempersiapkan diri untuk tampil di panggung.
Sedang kami, tak melakukan apa pun.
Hanya iuran sewajarnya untuk menyokong dana acara. Sebelumnya kami cukup sering
datang untuk melaksanakan try out dan ujian. Kami adalah siswa filial atau bisa
disebut siswa dari sekolah cabang yang tak begitu dikenal, dan kontribusinya
amat kecil dalam menyumbangkan nilai. Bisa dibilang kami adalah anak-anak yang
memperkecil nilai rata-rata sekolah. Anak-anak seperti kami adalah anak-anak
yang hampir putus sekolah, atau anak dari orang tua yang tak pernah
mempertimbangkan kualitas sekolah, atau dari anak-anak yang putus asa tak
diterima di sekolah impian mereka.
Jadi tak ada yang cukup luar biasa
untuk dikenang. Selama tiga tahun kami tak belajar dengan sungguh-sungguh,
melakukan sesuatu karena terpaksa sebab diminta oleh guru dan lebih banyak
mengeluh. Aktivitas sehari-hari kami di sekolah adalah mendengarkan guru yang
menyampaikan materi dengan kepala yang selalu ingin tumbang mencium meja. Bel
istirahat adalah nada yang paling menyenangkan, demo kami adalah ketika guru
masih bersemangat mengajar ketika jam pulang. Bahagia kami adalah ketika guru
berhalangan masuk. Dan kesan masa SMA kami adalah menumpang ketika try out,
ujian, dan bahkan pesta kelulusan.
Kami diminta berbaris memanjang
layaknya antrian sembako. Mengantri sesuai absen. Sekolah kami ini merupakan
sekolah cabang yang kedua, dan kelas kami adalah kelas IPS B sehingga kami
nantinya akan masuk aula di urutan paling akhir. Aku tak berminat dengan acara
ini, ingin rasanya segera lari dan pulang. Menyesal telah datang ke sini. Namun
karena sudah membayar iuran sebesar lima puluh ribu rupiah, kukatakan sekali
lagi li-ma pu-luh ri-bu ru-pi-ah, bapak memintaku tetap datang. Mengenakan
kebaya yang kupinjam dari kakak sepupu, tak memakai riasan, kucel diantara
putri-putri cantik. Tak memakai hills layaknya mereka, melainkan sepatu alstar yang hampir robek karena kainnya sudah rapuh terkena air dan panas matahari.
Mereka membawa tas-tas kecil atau
dompet, sementara aku memakai tas ransel hitam yang sudah kumiliki sejak kelas
dua SMP. Dulu tasku ini berwarna hitam, kini ia hitam keabuan. Entah karena
merusak pemandangan atau apa, teman-teman meminta agar tasku tak dibawa, hingga
tas itu berakhir di penitipan pos satpam.
Kami terus berjalan maju menunggu
giliran masuk. Seorang bapak-bapak memerintahkan kami agar mempercepat langkah.
Aku tak tahu namanya, tapi pastilah ia guru di sekolah ini. Rambutnya beruban
dan memiliki banyak keriput di wajahnya. Aku yakin usianya lima puluh lima
lebih. Ia amat sibuk mengorganisir. Menoleh ke segala arah seperti mencari
seseorang.
Dari depan ia menanyai satu per satu
temanku, sampai kemudian giliranku masuk, ia masih mencari.
“Kamu Mia Rosiana?” tanyanya membuatku
bingung.
Aku menjawabnya pelan sembari
mengangguk. Aku bingung, juga bertanya-tanya, kenapa ia tahu namaku?
Ia melarangku untuk duduk, aku berdiri
menunggu arahan selanjutnya, kulirik teman-teman yang telah menempati tempat
mereka masing-masing. Beberapa dari mereka berbisik dan cekikikan juga
bertanya-tanya kenapa aku masih bediri.
Guru itu kembali lagi dengan secarik
kertas di tangannya. Ia memberiku arahan untuk duduk di depan.
Aku duduk di deretan kursi tepat di
belakang tamu undangan, sudah ada dua siswa lain di sana. Yang pertama ia
lumayan gendut dan hanya fokus dengan apa yang ia makan, sedang yang satu cukup
kurus tak peduli dengan apa pun. Aku tak bisa menebak apa yang dia pikirkan.
Karena sedang kacau dengan pikiran sendiri.
Ketika kami genap berenam, kami
diminta mundur ke belakang oleh bapak guru tadi, dua wali murid mengikutinya di
belakang dan dipersilahkan duduk di tempat yang kami tinggalkan.
Masih sibuk dengan secarik kertas di
tangannya, ia kemudian bertanya siapa yang datang bersamaku. Menanyakan nama
bapakku kemudian apa baju yang dikenakan. Bapakku muncul bersama bapak guru dan
dipersilakan duduk. Bapak guru melihat kembali secarik kertas dalam
genggamannya dan memastikan semua sudah lengkap lalu tak kulihat lagi.
Aku duduk dekat anak IPA 1, di mana
tak seorang pun kukenal di sana, berada di tengah-tengah mereka membuatku
sesak. Hatiku berdebar, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Dan
yang paling buruk adalah bapak guru tadi salah memanggil siswa. Mungkin ada
beberapa siswa yang namanya sama denganku. Kemungkinan terburuk inilah yang aku
yakini. Aku menyiapkan diri untuk menanggung malu.
Seorang siswa yang sedari tadi diam
tak peduli menanyakan nilaiku, kukatakan nilai bahasa inggris sangat buruk, dan
tak mengingat nilai lain. Ia menghitung nilainya dan memberi tahu seolah aku
peduli.
Aku berusaha tenang untuk menambah
kepercayaan diri, lagipula aku sudah biasa menghadapi ini, meski hanya rangking
dua ketika lulus SMP, paling tidak aku sudah biasa menerima penghargaan nilai
bagus. Namun, meski kukerahkan kepercayaan diri, semua ini masih tetap tak
masuk akal.
Menghitung dari ujung, mungkin aku
akan rangking enam. Yah begitulah karena dari posisi duduk, aku berada paling
tengah. Jadi dari posisi duduk kami, untuk mempermudah kami keluar ketika
rangking berurutan disebut dari satu sampai enam, telah diatur agar aku duduk
di sini. Tak apa aku mendapat rangking 6, sudah cukup bagus. Begitu pikirku.
Waktu pemberian penghargaan tiba. Aku
tak berharap banyak.
Rangking satu merupakan seorang anak
laki-laki yang tinggi dari jurusan IPA, begitu juga rangking dua. Rangking tiga
diberikan kepada seorang anak perempuan yang kurus tinggi. Aku tak tahu siapa
mereka.
Aku seperti tak ingin mendengar tetapi
juga menunggu.
Rangking tidak dilanjutkan ke rangking
empat. Tetapi dibagi sesuai prodi. MC berhenti sejenak menanti tiga juara
menempatkan diri bersama wali di atas panggung. Kemudian ia melanjutkan.
“Penghargaan Siswa Berprestasi.
Rangking Satu Program Studi IPS dengan nilai Ujian Nasional Tertinggi diberikan
kepada Mia Rosiana, Filial Penawangan.”
Rasa bahagia hari itu memberi tangis
haru. Saat itu keinginanku bukanlah menjadi yang terbaik melainkan ingin
diterima di salah satu universitas yang telah kulamar. Ayahku hanya seorang
petani, aku hampir putus sekolah. Dan hari ini, berdiri di sini sebagai juara
adalah hadiah kecil yang nanti mungkin tak bisa kuberikan. Aku tak pernah
merasa pintar, tak pernah berpikir bahwa nilai akan membawa kesuksesan kelak.
Tetapi aku tahu hanya ini yang bisa kulakukan untuk bapak. Pria seorang diri
yang menghidupi dua anak dari tanah pinjaman.
Aku bukanlah apa-apa, dan belum
menjadi apa-apa. Setelah ini aku tak tahu ke mana. Aku hanya bisa mengandalkan
beasiswa, jika tak dapat berarti tak bisa kuliah. Dengan ijasah SMA akhirnya
aku akan melamar sebagai buruh pabrik, itu adalah hal paling realistis yang
bisa kulakukan setelah ini. Dan bagaimana kisah ini berlanjut. Aku tidak pernah
tahu.
Kupikir ini bisa jadi kesuksesan kecil
untuk bapakku. Atau ini akan jadi kesuksesan terakhirku untuk beliau. Tetapi
hari ini dalam hatiku aku telah berjanji, untuk terus berusaha apa pun yang
akan terjadi nanti.


Tulisan yang keren, inspiratif 👍🏽👍🏽👍🏽
ReplyDeleteJangan berhenti berusaha. Serius dengan apa yang kamu hadapi 💪🏽💪🏽💪🏽
Salut. Salah satu dari sekian banyak murid Ibu Woro Hapsari yang berprestasi.
ReplyDeleteLulus trus rabi biasane,nuuk nan
ReplyDelete