Dari Jalan Kaki Hingga Kendaran Paling Canggih Didunia

Perubahan Peradaban Baru dalam Bertranspotasi


Google

Menjadi bagian dari era milenial adalah hal yang luar biasa. Menyaksikan bagaimana perubahan teknologi sangat tampak dan mengubah pola kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilihat dari kecepatan internet yang meningkat, perubahan transportasi yang semakin baik, dan inovasi smathphone yang terus update. Dahulu handphone hanya dapat digunakan untuk mengirim pesan, menerima dan melakukan panggilan telepon, namun kini sebuah kotak tipis yang dapat digenggam itu, dapat memunculkan wajah penggunanya (video call), serta dilengkapi fitur-fitur canggih lainnya. Berbagai teknologi tebaru yang dulunya merupakan mimpi belaka, dan tidak pernah dibayangkan, kini satu persatu unjuk diri sebagai alat-alat canggih.

 Sobat semua tahu tentunya, mengenai cerita leluhur kita yang masih berjalan kaki, dan menggunakan sepeda ontel dalam kegiatan sehai-harinya. Bukan dengan alasan menjaga kesehatan dan olahraga, melainkan karena belum adanya transportasi lain yang bisa digunakan. Menempuh puluhan kilometer dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda, merupakan hal yang melelahkan, dan kini menjadi hal yang sulit dibayangkan, betapa lelahnya hal tersebut bagi generasi milenial saat ini.



Sobat bisa bertanya kepada kakek dan nenek yang mungkin masih bersama hingga saat ini, bagaimana orang tua zaman dulu melakukan aktivitas sehari-hari dengan transportasi seadanya. Dalam berbagai cerita zaman dulu, disebutkan sebuah ramalan yang mengatakan bahwa di masa depan nanti akan ada “terong” yang dapat menyala. Sobat tentu tahu kan sayuran terong yang memiliki warna hijau atau ungu yang satu ini.

Ramlan itu akhirnya terbukti, ketika Tomas Alva Edison menemukan bola lampu pijar yang mengubah dunia. Terong itu pun kini kita kenal dengan istilah lampu. Sebuah bola yang memancarkan sinar dengan tenaga listrik.

Google

Belum meratanya pembangunan jalan di daerah-daerah, menjadi salah satu factor yang memperlambat mobilitas barang. Sepeda motor misalnya, meski sepeda motor mulai ada di Indonesia sejak masa penjajahan Belanda, namun untuk pesebarannya baru terasa akhir-akhir ini, kira-kira dalam rentan waktu 1960-an sampai sekarang. Dimana infrastruktur sudah sangat membaik dan berkembang, meski masih ditemukan beberapa ketimpangan pembangunan infrastruktur di daerah luar Pulau Jawa. Ini merupakan hal wajar, mengingat kondisi geografis Negara kita yang berbentuk kepulauan dengan alam yang masih murni di berbagai pulau.

Saat ini sepeda motor bukan lagi barang mewah, hampir setiap lapisan masyaakat memilikinya. Harga motor yang dahulunya lebih mahal dari harga tanah, dalam waktu sekejap berbalik keadaannya. Begitu pula dengan mobil. Mobil bukan lagi kendaraan mewah dan telah menjadi kendaraan pribadi yang umum dimiliki setiap orang.

Namun, murahnya harga motor dan mobil saat ini, menimbulkan masalah baru, yaitu kemacetan yang meningkat. Perilaku masyarakat yang sangat konsumtif dengan peningkatan yang sangat cepat, tanpa dibarengi pembangunan infrastruktur yang seimbang ini lah, yang menjadi salah satu faktor penyebab kemacetan. 

Google

Meski demikian pemerintah terus melakukan upaya-upaya perbaikan dalam memajukan transportasi. Kemajuan transportasi di Negara-negara asing pun menjadi acuan bagi Indonesia untuk terus berkembang dan terus memperbaiki transportasi yang ada, demi kenyamanan masyarakat, dan dengan harapan Negara Indonesia menajadi negara yang lebih maju kedepannya. 

Google

Perbaikan transportasi umum seperti bus dan kereta dilihat sangat kentara perubahannya. Adanya bus trans di beberapa kota yang cukup membantu masyarakat, dengan tarif yang dinilai lebih murah merupakan sebuah kemajuan di bidang transportasi umum. Dibandingkan dahulu, ojek dan angkot menjadi satu-satunya pilihan. Dimana jika dibandingkan, tarifnya tentu lebih mahal ojek atau angkot.

Pengadaan KRL (Kereta Rel Listrik), MRT (Mass Rapid Transit) yang baru-baru ini eksis dioprasikan di ibukota, dan LRT (Light Rail Transit). Cukup ramai diperbincangkan.

1 April 2019, MRT mulai dioprasikan. MRT menjadi solusi terbaru bagi kemajuan transportasi di kota Jakarta. Fasilitasnya yang baik dan nyaman memberi kepuasan bagi penggunanya. Diharapkan MRT menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tingginya kemacetan di ibukota.

Tak hanya MRT, LRT juga diharapkan segera menyusul untuk berkontribusi dalam mengatasi kemacetan.

“Tinggal Tentukan Tanggal, LRT Jakarta Siap Beroprasi” judul sebuah artikel yang di rilis Kompas.com.

“Dari kami, dari segi kesiapan beroprasi sudah siap 100 persen,” kata Corporate Communication PT LRT Jakarta Santy Pradayini kepada Republika.co.id, Ahad (28/4).

Menurut Republika.co,id, LRT siap dioprasikan, hanya tinggal menunggu tanggal yang ditetapkan oleh Pemprov DKI Jakarta.

Beralih dari persoalan transportasi kereta yang semakin maju, ada transportasi lain yang ikut mendampingi kemajuan transportasi dunia. Meski belum tersebar luas, dan tak memiliki kemungkinan untuk menjadi alat transportasi utama, alat transportasi ini bisa dijadikan acuan untuk perkembangan yang inovatif untuk terus dipelajari, sehingga menciptakan penemuan-penemuan yang lebih baru.

1. Hyundai IONIQ SCUTER

Google

Sobat tentu kenal transportasi yang melekat pada tokoh Teletubis ini. Sebuah scooter listrik lipat yang sangat simpel, memiliki bobot ringan, sehingga mudah di tenteng. Tentunya sebelum menggunakan MRT atau LRT dan transportasi umum lainnya, kita terlebih dahulu akan menggunakan alat transportasi untuk menuju stasiun atau halte bus jika hendak berpergian. 


Google

Bagi mereka yang bertempat tinggal di dekat stasiun dan halte mudah saja, cukup dengan berjalan kaki. Tapi bagi masyarakat yang tinggal relatif jauh dari stasiun atau halte, tentu membutuhkan alat transportasi lain dari rumah untuk menuju lokasi pemberhentian bus atau kereta. Nah, sobat dapat menggunakan alat yang satu ini. Layanan ojek online memang sudah cukup menjadi solusi saat ini, tapi tentunya Ioniq Scooter ini akan menjadi trobosan yang cukup bagus di masa mendatang. Karena mudah di tenteng dan simple, alat ini tak akan merepotkan untuk dibawa kemana-mana, bahkan Ioniq Scooter ini bisa dibuka dengan satu tangan saja.


Untuk membuatnya melaju, pengendaranya cukup menekan tuas pada ATV, sedang untuk pengereman cukup menekan tuas rem ban belakang, atau melepas tekanan pada tuas ATV.

Sebagai penerangan, alat ini memiliki lampu depan dan belakang. Terdapat pula sensor yang dapat mendeteksi kapan scooter listrik ini, aman untuk dinaiki dan dikendarai.

2.  Hover Car, Volkswagen



Volkswagen (VW), adalah sebuah pabrikan otomotif berbasis di Wolfsburg, Lower Saxony, Jerman yang memiliki dan mengungkap gagasan mobil masa depan untuk rakyat China ini. Sobat tentu pernah melihatnya dalam film animasi Doraemon yang berjudul “Stand By Me”, sebuah kendaraan yang digunakan oleh Nobita dewasa. Sangat menarik, karena sebuah mobil yang luar biasa ini, ternyata mungkin untuk diproduksi secara masal.

Google
Hover car VW ini menganut teknologi levitasi elektromagnetik yang membuatnya mampu melayang di udara, dan dilengkapi sensor canggih, salah satunya sensor jarak untuk mengantisipasi terjadinya benturan atau kecelakaan.

3. Walkcar

Walkcar diciptakan oleh Insinyur dari Jepang, dimana merupakan alat transportasi terkecil di dunia. Walkcar terbuat dari bahan aluminium yang mampu menahan beban hingga 120 kg, walaupun fungsinya seperti mobil, tetapi alat ini beratnya hanya 2-3 kg saja.

Google
Walkcar ini mampu berjalan dengan tenaga baterai yang harus diisi selama tiga jam. Kecepatannya mampu mencapai 10 km per jam, dengan jarak sejauh 12 km. Alat ini dibandrol dengan harga kira-kira 100.000 yen, atau sekitar 9 jutaan.

Secara sekilas alat ini tak jauh beda dengan Smartwheel. Meski bedasarkan spesifikasi dan  harga tentu jauh berbeda.

Jadi Sobat mau pilih kendaraan yang mana nih, untuk berpartisipasi dalam era berteknologi tinggi saat ini?

Pemilu : Pemilik Suara Harusnya Netral Biar Baper Ga Jadi Masalah

Google


Kamis, 17 April, merupakan waktu yang ditentukan sebagai puncak pemilu 2019. Namun, tentu tak benar-benar serempak. Perbedaan geografis menjadi kendala untuk melangsungkan puncak pesta ini secara serempak.

Jauh sebelum 17 April, tentunya sudah dilaksanakan program kampanye. Mulai dari siapa yang akan maju sebagai capres, disusul nama cawapres yang masih menjadi “misteri”. Hingga pemilihan suara berlangsung. Sudah ramai terdengar dari berbagai penjuru siapa yang akan dipilih. Proses debat presiden dan sebagainya belum dimulai, program kinerja belum disebarluaskan tetapi pilihan sudah menaungi hati.

Dan 17 April pun berlalu. Timses seharusnya sudah tenang, karena telah mengerahkan segala upaya untuk menginformasikan kebaikan-kebaikan, dan kinerja paslon dukungannya.

Tapi sayangnya, pesta demokrasi yang seharusnya sudah tenang, damai, dan santai menikmati rasa sebuah penantian untuk penentuan siapa sang pemenang, nyatanya tak tercapai.

Setelah proses pemilihan oleh pemilik hak suara, anget-anget suasana hati, belum juga mendingin. Saya berpikir, setelah menyuarakan pendapat melalui pemilu tanggal 17 April kemarin, maka semua sudah selesai dan tinggal menunggu hasil dari KPU. Bagi saya yang tidak mempelajari sistem Quick Count dan memilih percaya saja dengan KPU, memilih duduk diam dan menanti hasil.


Tapi lain dari berbagai pihak. Bagi mereka yang mengerti sistem perhitungan KPU dan Quick Count, mengawal jalannya perhitungan, sehingga mampu mengoreksi kinerja KPU dan Quick Count. Beberapa pihak pun menuding adanya tindak  kecurangan yang dilakukan oleh pihak KPU.

KPU tak netral, sehingga kesalahan input C1 dianggap menguntungkan pihak capres 01. Dari berbagai pihak bahkan mengatakan masyarakat telah meragukan kredibilitas KPU, dan menganggap KPU tak bisa lagi di percaya.

Di beberapa daerah, seperti di desa saya misalnya, setelah proses mencoblos oleh pemilik hak suara dan petugas KPPS mengerahkan kemampuan untuk bertanggung jawab dalam pemilu, maka semua selesai. Kembali tenang, dan tak ada apa pun selain mengalihkan fokus untuk mendengar perolehan hasil suara yang biasa ditayangkan oleh saluran televisi.

Perbedaan hasil perhitungan oleh KPU dan berbagai sumber terhadap hasil hitung BPN, deklarasi kemenangan oleh capres 02, dan berita-berita lainnya tumpang tindih memenuhi informasi dari sebuah kotak bercahaya tersebut.

Mengoreksi kinerja KPU dan mengkritisi kemungkinan tindak kecurangan yang mungkin terjadi, serta mengawal proses perhitungan, sehingga tercapai perhitungan yang netral dan adil adalah hal yang baik dan harus dilakukan oleh semua pihak. Kendati demikian, sangat disayangkan.

Sungguh sangat-sangat disayangkan, jika hal yang seharusnya dilakukan malah tak benar-benar menjadi fokus utama, melainkan melakukan tindakan-tindakan yang memecah belah seperti saling serang untuk menjelekkan lawan.

Ketika masyarakat mengetahui sebuah kecurangan dan ketidakadilan, wajar bila mereka meluapkan emosi dan rasa kecewanya. Namun tentu pada akhirnya takkan selesai sebuah masalah jika berfokus pada perasaan semata.

BAPER. Kata kunci kenapa pemilu selalu dikaitkan dengan suasana panas, seolah-olah pemilu adalah pemicu suasana genting, dan rawan perkelahian. Dan sayangnya itu semua menjadi salah satu budaya yang tak baik bagi masyarakat Indonesia.

Pendukung 01 dan 02 saling serang terhadap paslon yang tak didukungnya. Mulai dari menyerang paslon, orang-orang di baliknya, sampai akhirnya pendukung 01 dan 02 ini saling serang.

Sudah kewajiban dan hak milik kita bersama menentukan paslon yang paling baik menurut pribadi masing-masing, untuk memilih pasangan mana yang dianggap mampu memimpin dan membawa Indonesia menjadi lebih baik dan maju kedepannya. Mendukung pasangan 01 adalah hak, begitu pula memilih pasangan 02 adalah hak.

Maka apakah berhak pendukung 01 menyalahkan pendukung 02 karena tak sama suara?

Apakah berhak pendukung 02 menyalahkan pendukung 01 karena tak sama pendapat?

Seharusnya hal ini tak menjadi masalah. SEHARUSNYA.

Tapi mengapa kemudian menjadi masalah? Karena BAPER.

Pada hakikatnya mengkritik seorang pemimpin atas kinerjanya selama memimpin adalah hak bagi setiap golongan masyarakat. Tak peduli di lapisan mana ia berada, tak peduli ia hanyalah seorang yang miskin harta dan dari kalangan yang tak memiliki kuasa.

Mengkritik janji seorang pemimpin yang tak direalisasikan, mengkritik ketidakadilan yang ada, adalah sebuah kebaikan.  Dan alangkah baik jika, cukup sampai disitu atau memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah.

Kalau solusinya ganti presiden gimana? Tentu tidak masalah. Sudah berupaya mengganti presiden, tapi yang lain pilih dua periode harusnya juga tak masalah. Jangankan untuk memilih presiden yang hanya akan berusia lima tahun. Memilih keyakinan hidup yang resikonya sampai akhir napas berembus saja tak boleh dipaksakan.

Maka jika pada akhirnya mengatakan bahwa pendukung 01 adalah orang yang tak berpendidikan, begitu pula mengatakan bahwa pendukung 02 gila. Hal tersebut masuk pada kategori kata tak pantas seperti “bodoh, brengsek” dan kata-kata semacamnya. Maka yang dikoreksi bukan lagi pemilunya, melainkan pendukung yang cinta buta.

Perlu disadari bersama, meski kita mengetahui kebaikan seseorang, tak lantas menjadikan orang itu sempurna tanpa cacat, demikian juga ketika mengetahui keburukan seseorang, tak lantas menjadikan orang itu cacat, tanpa kelebihan. Masyarakat pada umumnya tentu tahu kebaikan 01 dan 02, begitu juga mengetahui kekurangan paslon masin-masing.

Bermusuhan dengan tetangga, teman, maupun keluarga dengan kata “bodoh dan brengsek” bukanlah solusi untuk membawa negeri ini menjadi lebih baik. Namun berkontribusi dalam pembangunan dan mengkritisi kecacatan terhadap keadilan, bisa menjadi salah satu solusi untuk kebaikan negeri ini.


Arti Bahagia - Ku Kenal Kau Setelah Luka

Google

Apa sih arti bahagia?
Tentunya setiap orang memiliki versinya sendiri ya dalam menjelaskan arti dari sebuah kata "bahagia".

Apakah teman-teman pembaca Renjana Kita lagi bahagia? Atau justru sedang sedih? 

Kalau sedang sedih, bisa nih curhat dengan kami. Tapi hari ini, kita akan share dulu arti kebahagiaan melalui sebuah puisi.


Ku Kenal Kau Setelah Luka


Tawa tak bermakna
Tak dapat dirasa, hanya hampa
Senyum, cahaya, dan binar pada kedua jendela
Seperti potret kosong yang diam.

Senyum tinggal senyum saja
Sebuah garis yang tercipta tanpa rasa
Debar hanya debar saja,
Lalu diam tanpa suara.

Dan aku pernah bertanya apakah itu semua bahagia?
Apakah semua rasa itu ada?
Apakah bahagia itu nyata?

Sebuah rasa dalam ilusi semata
Hingga bumi runtuh tenggelam
Dan aku tersadar dalam kesesatan
Dengan luka yang menyakitkan
Bahwa benar
ia adalah apa yang kurasa
Dalam mimpi-mimpi malam lalu,
Ialah bahagia setelah kukenal apa itu luka.




Diary, To Change the World Into a Better Place

pixabay


Aku tak mengenal lagi yang namanya hari sibuk. Setiap hari melingkarkan diri dalam selimut dan membenamkan diri di atas kasur yang hangat. Tak ada janji, tak ada produktivitas. Seperti sebuah mesin yang telah dioprasikan dua puluh empat jam dalam sehari kemudian rusak.

Setiap hari memotivasi diri bahwa semuanya belum berakhir. Waktu nyatanya terus bergulir meski hati rasanya ingin memaksa agar ia berhenti. Tapi bagaimana caranya?

Waktu tak bisa berhenti. Dan setiap hari mendapati diri semakin tertinggal dari orang lain. Tertekan… tetapi mungkin ini yang dapat kukatakan sebagai takdir.

Hari ini, juga kemarin tak ada yang istimewa. Tetapi sayangnya waktu yang masih dimiliki merupakan hal istimewa yang amat luar biasa, tak dapat disiakan. TV mengoceh menyampaikan berbagai informasi. Ada satu hal yang kutangkap dari sebuah acara televisi. Dalam berita Insert kembali membahas mengenai kasus Audrey yang sedang viral di media sosial.

Geram, juga ingin menangis rasanya. Negri tercinta ini demikian terikat dengan kongkalikong ketidakadilan yang terus dipelihara.

Mungkin netizen sepertiku ini tak tahu betul mengenai kasus yang dialami Audrey dengan detail. Tetapi kurasa warganet juga bukan orang yang bodoh untuk sekedar diombang-ambing berita hoax.

Yang kaya berkedudukan berjaya. Menikmati kekuasaan yang dimiliki tanpa sedikitpun rasa segan terhadap keadilan, terhadap hak untuk orang lain. Ada kalanya yang tak berdaya ini sampai lelah untuk membuka suara lantaran pasti dibungkam dan tak’kan terdengar.

Diam bersimpuh menunggu dunia berubah mungkin bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Tetapi melakukan segala cara pun tak cukup menghasilkan lantaran tak memiliki kedudukan yang cukup kuat.

Dunia tak berubah, namun aku hidup dengan pandangan bahwa dunia telah berubah dan aku berusaha untuk terus melangkah maju. Tetapi keyataan yang kutemukan adalah aku hanya hidup dalam duniaku. Aku berhasil dalam duniaku. Dan semua itu cukup bagiku.

Tetapi apakah hidup hanya untuk memikirkan diri sendiri?

Menyiksa kurasa, ber-empati tanpa mampu melakukan sesuatu yang berarti. Semua layaknya omong kosong dan perasaan percuma yang menggelisahkan hati.

Maka apa yang sebaiknya dilakukan? To change the world into a better place…

Dunia yang Kita Tempati

Pinterest

  1. Kejahatan
Di dunia kita, kejahatan berbentuk abstrak. Tak memiliki ukuran baku. Semua orang bisa saja melakukan kejahatan, semua orang bisa saja dihukum. Namun, sesekali hukum buta akan kejahatan. Barangkali karena bukan Tuhan yang Maha Adil. Aku mengerti.
Pun, tentang orang-orang yang hidup di dunia ini. Ia bisa begitu pandai menilai siapa yang jahat dan siapa yang baik. Ia juga jadi begitu berhak menghakimi seseorang yang  di-rasa salah. Hanya karena tidak suka, manusia bisa menjadi sangat hina.
Maka semua orang di dunia ini melakukan kejahatan, sebab tidak ada satu orang pun yang terhindar dari rasa tidak suka orang lain.
  1. Salah dan Benar
Salah adalah benar dan benar adalah salah. Kala itu seseorang turun dari sebuah kereta, orang-orang ramai berteriak, mengerumuni wanita ringkih dan telah berumur. Dia wanita tua yang dituduh mencuri dompet. Tangannya gemetar, air mata beruraian, jantungnya tidak lagi berdetak normal. Ia yang tua tidak mampu menyaingi semangat menggebu oleh mulut para anak muda yang kini melingkarinya. Ia bersimpuh di kaki mereka, sebagai orang tua dan manusia tetapi tak ada yang mendengar. Tak ada yang berusaha menjadi telinga untuk mendengarkan.
Bahkan meski tidak bisa menjadi mata, sulitkah menjadi telinga? Meski tidak bisa menerima kesalahan itu, tidak bisakah melihatnya sebagai manusia. Lihatlah kulitnya yang keriput, serupa kulit ibu mereka di rumah.
Seseorang yang baru saja turun dari kereta itu, adalah sang anak. Yang pergi meski melihat ibunya duduk bersimpuh di antara para manusia yang menghujat. Ia pergi, malu. Tak ingin dikenal sebagai anak wanita itu.
Wahai dunia, jika kamu ingin menghukum. Maka, hukumlah sang anak. Ialah kesalahan yang salah. Sedang sang wanita adalah kebenaran yang benar. Sebab, dia hanya ingin mengembalikan dompet yang jatuh. Namun tak ada orang percaya sebab penampilan lusuh.
Ada banyak sekali kesalahan yang dibenarkan dan kebenaran yang disalahkan. Akibat manusia terlalu angkuh untuk menggunakan mata dan telinga.
  1. Dosa
Seandainya bumi mampu berbicara, sanggupkah kamu menutupi dosa yang telah dilakukan? Semesta terlalu baik, membuat bumi bisu agar manusia tidak perlu malu. Ya, manusia makhluk pemalu.
Tetapi, kini semesta merana. Menangis sepanjang malam dan pagi. Menyesal akan keputusan yang dulu ia ambil. Kini semua tidak seperti yang ia harapkan.
Manusia yang dilindunginya dari rasa malu jika bumi jahil menceritakan setiap perbuatan mereka pada manusia yang lain. Kini tak lagi punya rasa malu. Kini bahkan terang-terangan melakukannya di depan orang lain.
“Tak apa, Semesta. Kini kita punya hiburan baru. Mari nikmati saja, melihat yang dosa mendosakan si suci. Dan yang dosa terlihat suci. Suatu hari, mereka akan datang ke hadapan kita, saat itu tumpahkan segala kecewamu. Kau berhak melakukannya.”
  1. Pengakuan
Seseorang kerap sekali menjadi resah akan sebuah pengakuan. Mereka lantas menjadi lebih lantang dalam berbicara agar terlihat paling benar, lalu mengumbar aib orang lain agar terlihat paling baik. Mereka akan mendapat banyak pengakuan daripada si pendiam yang benar.
Tanpa sadar terserap arus hitam yang mematikan. Sebab yang percaya padanya, hanya orang-orang semacam dirinya. Lalu suatu hari dia juga akan menjadi korban. Begitu seterusnya, sebab sekumpulan ini akan menjelekkan kumpulannya sendiri. Karena begitulah sifat mereka.
  1. Cinta
Adalah yang paling rumit dari apa pun di dunia. Ia bisa menjadi musuh yang menakutkan tetapi juga bisa menjadi cinta yang menghangatkan. Adanya warna bagi dunia, tetapi manusia tetap tak sempurna dan tak mampu bersanding dengan cinta yang sempurna. Sebab, sesekali hadirnya menghanyutkan meski adanya tak kasat mata.
Hadirnya bisa menjadi bambu yang siap menikam, semua demi cinta, begitu katanya. Sesekali membuat yang pintar menjadi bodoh, lagi-lagi semua demi cinta katanya.
Cinta terlalu sempurna, karena itu kita akan terpesona. Menjadi budak yang penurut. Menjadi abdi yang setia. Dan menjadi kekasih yang bodoh
Begitulah dunia yang kita tempati, semua yang terlihat semestinya, semua yang benar, semua cinta yang menggebu. Hanyalah keabstrakan. Tidak nampak, tak mampu digenggam kebenarannya. Tak bisa dikendalikan. Ia mampu menjatuhkanmu sampai hancur berkeping-keping.
Dunia memang begitu. Namun kamu boleh memilih. Sebab hati adalah organ yang ada di dalam tubuhmu, mengapa dunia mampu menjadi tuannya. Kamu lah sang tuan.

RELA - Sebuah Perjalanan ke Terminal Tirtonadi

WallpaperCave


Aneh memang kedengarannya ketika harus mempercayakan hidup kepada seseorang yang baru ditemui saat itu juga dan tanpa sebuah perkenalan. Aneh kupikir ketika sibuk mencari seseorang yang dapat dipercaya dalam jangka waktu yang lama namun kini duduk menunggu menyerahkan diri begitu saja, layaknya hewan kurban yang jalan saja dibawa ke penjaggalan tak meronta. Itulah yang aku alami hari ini. 
Tak menyangka rasanya, hari seperti ini datang juga, hari dimana aku akan melihat dunia sejelas-jelasnya, tak lagi mendengar dan mempelajari apa yang dialami orang lain melainkan terjun langsung meninjau TKP dan menulis kisah nyataku sendiri. Tempat kejadiannya bernama “dunia nyata” dan perkaranya adalah “realitas”.
Bapak mengantarkan aku sampai di perempatan jalan besar tempat bus berhenti. Hari ini untuk pertama kalinya aku naik bus sendiri. Tak ada yang istimewa dari sebuah perjalanan dengan bus di siang hari, namun kebutaanku terhadap angkutan umumlah yang membuat peristiwa ini benar-benar terasa luar biasa. Kebutaanku ini bukanlah karena aku demikian udik karena dalam jangka waktu yang lama tinggal di pedesaan, melainkan aku terbiasa keluar kota dengan sepeda motor. 
Aku tak pernah pusing memikirkan jalan-jalan yang tak pernah aku lewati karena di jaman “now” segala dapat diakses dalam genggaman tangan. Tak pelu takut untuk tersesat ketika mengendarai sepeda motor karena segala kemudahan telah demikian dekat sehingga seseorang tak bisa lagi bersusahpayah meskipun ingin untuk berpayah-payah. Namun berbeda dengan bus hari ini. Jaman “now” sudah tak lagi terasa bagiku. Saat ini aku layaknya anak pedalaman tanpa telepon genggam dilepas di ibukota Negara. Takut dan bingung tak memiliki arah tujuan dan tak tahu harus kemana. Dramatis sekali,
Aku dan bapak menunggu bus yang biasa lewat di jalan ini, dalam hati aku berharap bus tak akan pernah datang. Namun inilah jalan transportasi itu, sebuah bus tampak mendekat dari kejauhan, bapak memberhentikan bus tersebut. Aku yang sedari tadi mengoceh khawatir karena tak pernah naik bus sendiri sebelumnya, tak bisa berbuat apa pun selain bersiap naik bus yang mendekat. Bapak meyakinkanku dan membuatku berani. Tak ada gunanya karena semua kata-kata bapak lenyap begitu saja dalam pikiranku dan aku hanya fokus pada detik-detik aku harus pergi dengan bus itu. 
Aku berpamitan, mencium tangan bapak dan menaiki bus dengan jantung yang berdebar-debar. Setelah memasuki bus, tak lagi kulihat wajah bapak. Aku membuat diriku setenang mungkin agar tampak seperti orang yang terbiasa naik bus. Pengalaman pertama ini adalah suatu kebencian dalam diriku. Aku adalah seorang yang introved, tak suka terlalu akrab dengan sembarang orang, dan sangat tak suka bertanya kesana kemari seperti yang diperintahkan bapak jika tak tahu lagi akan naik bus yang mana untuk melanjutkan perjalanan, itulah kenapa aku lebih mencintai kendaraan pribadi ketimbang kendaraan umum, tapi apa daya, aku kini tak memiliki sepeda motor.
Bus mulai bergerak, jantungku berdebar lebih cepat dan merasa gugup, seperti akan ada kejadian buruk yang menimpaku, meski itu hanya sebuah perasaan, namun nyatanya sangat menggangguku. Tak ada yang istimewa sebenarnya perjalanan dengan bus, terlebih banyak orang begini, namun bagiku yang baru pertamakali melakukannya, sungguh adalah hal luar biasa. Pengalaman pertama ini tentu tak benar-benar pertama bagiku. Dulu saat masih kecil ibu sering mengajakku bepergian dengan naik bus, namun saat itu aku tak pernah merasa ada yang berbeda dengan kendaraan apa pun, entah itu mobil, sepeda motor, bus, atau pun kereta.
Dulu aku cukup duduk diam dan memerhatikan jalan yang pasti tak akan kurekam dalam memori masa kecilku. Aku tak perlu berpikir akan kemana dan dengan apa aku mencapai tujuan, atau berpikir kendaraan apa dan harus berapa kali berganti kendaraan, karena ibu akan menggandeng tanganku atau bahkan menggendongku karena langkah kecil yang lamban dan semua akan selesai begitu saja. Itu sudah lebih dari dua belas tahun yang lalu, kini aku harus memikirkan kemana arah tujuanku, dengan apa aku kesana, dan dengan biaya berapa aku kesana serta perincian biaya tak terduga untuk minum saat haus atau bahkan memberi lima ratus rupiah untuk pengamen dan lain semacamnya. Bapak bukanlah seseorang yang akan berbelas kasihan kepadaku meski tahu bahwa aku tak pernah naik bus sendiri, kemandirian adalah hal yang harus dimiliki anak-anaknya, tak peduli seberat apa pun masalah harus dihadapi, kekuatan diri sendirilah yang harus digunakan.
Bus berjalan baik-baik saja, adakalanya aku berpikir alangkah bahagianya aku kalau keterpaksaanku naik bus ini bukanlah untuk mencari pekerjaan melainkan untuk kuliah. Aku memejamkan mata karena ingin bersantai dalam bus, menghilangkan pikiran-pikiran seperti kuliah yang membuatku sedih dan tidur, sesuatu yang tak bisa kulakukan ketika aku mengendarai sepeda motor. Sampai detik-detik menegangkan itu datang. 
Aku kaget dan terbangun karena bus berbelok dengan kecepatan tinggi sehingga kami para penumpang harus berpegang erat kepada apapun agar tak jatuh dari tempat duduk. Semua orang tampak biasa saja. Jangan berpikir terlalu cepat, tak ada kecelakaan ataupun musibah seperti dalam film-film drama seperti sang sopir membanting stir dan mobil akhirnya menabrak tiang listrik. Kondisi jalan yang memang berada di perbukitan dan berkelok membuat bus berjalan naik turun dengan belokan-belokan yang kadang cukup tajam menurutku. 
Aku tak merasakan hal yang istimewa ketika menggunakan sepeda motor melalui jalan ini. Kecepatan dapat diatur sedemikian rupa agar tubuh tak perlu merasa diombang-ambing, namun tak kusangka jika demikian menakutkan ketika menggunakan bus, ketakutan seperti mendekap erat tak mau pergi dan kekhawatiran datang silih berganti. Bayangan-bayangan mengerikan yang sering kusaksikan dalam berita dan film drama muncul dalam kerjap-kerjap flash yang silih berganti.
Sebenarnya ketika naik motor pun adakalanya aku merasa takut karena terlampau sering kulihat bus atau mobil-mobil besar demikian miring disebabkan medan jalan yang tak rata, perasaan dan pikiran-pikiran menakutkan kalau-kalau bus atau mobil-mobil itu terjengkang dan menimpaku yang berpapasan berlawanan arah dengannya tak bisa tidak hadir dalam pikiranku, memberikan aku ketakutan dan membuatku merasa harus berada dalam jarak sejauh mungkin dengan kendaraan-kendaraan itu.
Tak kurang jika perasaan yang kurasakan saat ini layaknya ketika menaiki roller coaster, sebuah wahana dengan kereta mini yang melaju dengan kecepatan tinggi di tempat bermain, yang begitu menantang menarik perhatian siapa saja yang memiliki keberanian untuk menaikinya dan dengan terpaksa harus mengeluarkan seluruh isi perutjika tak sanggup lagi menahan muntah ketika wahana itu tak terkalahkan. 
Maka yang kualami saat ini persis sama. Perutku terasa diaduk-aduk, kepalaku pusing, dan aku merasa mual. Seluruh isi perut rasanya perlahan naik ingin keluar, air liurku berubah rasa, menjadi sebuah rasa aneh yang menambah mual dan pusing yang aku rasakan. Tak ada angin kencang yang menampar wajah seperti ketika menaiki roller coaster, namun perasaan terombang-ambing tak berlebihan jika kusamakan.
Tak hanya itu, kini aku menyesal. Aku menyesal karena harus mempercayakan seluruh hidup dan perjuanganku kepada seorang sopir yang mengejar setoran harian. Di perbukitan seperti ini tak sulit untuk sekadar menemukan jurang yang dalam di depan mata, bahkan tak sulit menemukan jalan dengan belokan tajam tanpa pembatas jalan. Maka tak perlu pun bersusah payah jika ingin menerjunkan diri dengan bebas ke jurang yang dalam itu. Tak berlebihan bahkan jika kukatakan sang sopir “ugal-ugalan” dan membahayakan para penumpang. Realitas yang tak akan terhindarkan dalam hidup ketika naik kendaraan umum adalah terkadang kita menyerahkan diri dan seluruh hidup kita pada seseorang yang bahkan tak kita tahu namanya, dan dengan jelas tak mungkin kita tahu apakah ia masih termotivasi untuk hidup ataupun tidak, namun kita dengan mudah dan gampangnya harus percaya.
Dan realitas berikutnya yang kutemukan serta terdengar aneh, gila bahkan konyol adalah aku dengan terpaksa akan naik bus ini lagi ketika pulang nanti. Sungguh tak bisa dipercaya.
Aku terus menelan ludah, seakan-akan mendorong dan memaksa masuk semua isi perut yang hendak keluar, segala upaya ini justru semakin menyiksaku, namun dengan rasa sosial yang tinggi aku terus berupaya menahannya agar penumpang bus yang lain tak merasa terganggu denganku. Masih satu setengah jam lagi aku akan tersiksa, butuh waktu dua jam sejak bus berangkat untuk sampai di Terminal Tirtonadi Kota Solo. 
Aku memaksa diri untuk tidur dan melupakan rasa mual dan pusing, membayangkan diri sedang berada di kereta dengan AC yang dingin dan bau yang wangi, sesekali halusinasi itu dapat meringankan rasa mual dan pusingku, namun tak bertahan lama rasa mualku bertambah ketika aku menghirup asap rokok yang berasal dari belakang bus. Aku tak mencari tahu siapa perokok yang tak memiliki jiwa sosial dan perikemanusiaan itu. Hanya terus menggerutu dalam hati, bagaimana mungkun ia merokok di dalam bus yang sumpek dengan sedikit pernapasan ini, tetapi aku tak mau menambah kebencian dengan menoleh kebelakang melihat wajahnya. 
Aku berusaha menutup hidungku dengan jilbab karena tak membawa masker, namun sungguh sial, asapitu terus saja berdatangan dari belakang seperti sebuah aroma yang menarik dan membuat kita terus terfokus untuk mencari darimana asalnya. Bukan untuk tahu aroma apa itu, dan menikmatinya seperti aroma yang dihasilkan sebuah makanan yang enak, tetapi justru untuk segera mendamprat orang yang menyebabkan bau itu dan memaki dengan kata yang paling kasar dan jahat agar begitu jelas tak perlu diterjemahkan untuk dipahami bahwa itu adalah makian.
Setiap kali asap rokok bergulung datang dari belakang, aku merasa tak kuat dan ingin memutahkan semuanya, namun sial hatiku menolak melakukannya. Sungguh baik sekali aku kadang-kadang. Penderitaanku tak berkurang sedikitpun melainkan semakin buruk saja kurasakan, maka aku menghibur diri dengan melihat jalan untuk tahu seberapa lama lagi aku harus bertahan dalam penderitaan ini. Aku jelas tahu dan hafal bahwa aku masih harus bertahan satu jam lagi, namun kukatakan pada diriku sendiri bahwa sebentar lagi bus ini akan sampai. Kata-kata itu dan hanya itu yang terus aku ulangi meskipun sama sekali tak membantu dan tak memberi dampak apapun.Dalam keadaan seperti ini sering sekali kutemukan otakku tak lagi bekerja. Melakukan sesuatu untuk menghibur diri sendiri adalah pekerjaan yang sungguh aneh, namun tak sedikit yang melakukannya.
Dan rasa frustasiku ini mencapai klimaks. Kekuatanku seperti sebuah tembok yang hancur berkeping-keping karena di bom oleh musuh. Tak tanggung-tanggung musuhku menggunakan nuklir, sesuatu yang tak bisa kutandingi dengan tongkat atau bambu kuning. Maka aku kalah telak dan menyatakan kekalahan dengan mengibarkan bendera putih. “Turun sini Pak!!!!....”