RELA - Sebuah Perjalanan ke Terminal Tirtonadi

March 20, 2019 Mimia Mia 0 Comments

WallpaperCave


Aneh memang kedengarannya ketika harus mempercayakan hidup kepada seseorang yang baru ditemui saat itu juga dan tanpa sebuah perkenalan. Aneh kupikir ketika sibuk mencari seseorang yang dapat dipercaya dalam jangka waktu yang lama namun kini duduk menunggu menyerahkan diri begitu saja, layaknya hewan kurban yang jalan saja dibawa ke penjaggalan tak meronta. Itulah yang aku alami hari ini. 
Tak menyangka rasanya, hari seperti ini datang juga, hari dimana aku akan melihat dunia sejelas-jelasnya, tak lagi mendengar dan mempelajari apa yang dialami orang lain melainkan terjun langsung meninjau TKP dan menulis kisah nyataku sendiri. Tempat kejadiannya bernama “dunia nyata” dan perkaranya adalah “realitas”.
Bapak mengantarkan aku sampai di perempatan jalan besar tempat bus berhenti. Hari ini untuk pertama kalinya aku naik bus sendiri. Tak ada yang istimewa dari sebuah perjalanan dengan bus di siang hari, namun kebutaanku terhadap angkutan umumlah yang membuat peristiwa ini benar-benar terasa luar biasa. Kebutaanku ini bukanlah karena aku demikian udik karena dalam jangka waktu yang lama tinggal di pedesaan, melainkan aku terbiasa keluar kota dengan sepeda motor. 
Aku tak pernah pusing memikirkan jalan-jalan yang tak pernah aku lewati karena di jaman “now” segala dapat diakses dalam genggaman tangan. Tak pelu takut untuk tersesat ketika mengendarai sepeda motor karena segala kemudahan telah demikian dekat sehingga seseorang tak bisa lagi bersusahpayah meskipun ingin untuk berpayah-payah. Namun berbeda dengan bus hari ini. Jaman “now” sudah tak lagi terasa bagiku. Saat ini aku layaknya anak pedalaman tanpa telepon genggam dilepas di ibukota Negara. Takut dan bingung tak memiliki arah tujuan dan tak tahu harus kemana. Dramatis sekali,
Aku dan bapak menunggu bus yang biasa lewat di jalan ini, dalam hati aku berharap bus tak akan pernah datang. Namun inilah jalan transportasi itu, sebuah bus tampak mendekat dari kejauhan, bapak memberhentikan bus tersebut. Aku yang sedari tadi mengoceh khawatir karena tak pernah naik bus sendiri sebelumnya, tak bisa berbuat apa pun selain bersiap naik bus yang mendekat. Bapak meyakinkanku dan membuatku berani. Tak ada gunanya karena semua kata-kata bapak lenyap begitu saja dalam pikiranku dan aku hanya fokus pada detik-detik aku harus pergi dengan bus itu. 
Aku berpamitan, mencium tangan bapak dan menaiki bus dengan jantung yang berdebar-debar. Setelah memasuki bus, tak lagi kulihat wajah bapak. Aku membuat diriku setenang mungkin agar tampak seperti orang yang terbiasa naik bus. Pengalaman pertama ini adalah suatu kebencian dalam diriku. Aku adalah seorang yang introved, tak suka terlalu akrab dengan sembarang orang, dan sangat tak suka bertanya kesana kemari seperti yang diperintahkan bapak jika tak tahu lagi akan naik bus yang mana untuk melanjutkan perjalanan, itulah kenapa aku lebih mencintai kendaraan pribadi ketimbang kendaraan umum, tapi apa daya, aku kini tak memiliki sepeda motor.
Bus mulai bergerak, jantungku berdebar lebih cepat dan merasa gugup, seperti akan ada kejadian buruk yang menimpaku, meski itu hanya sebuah perasaan, namun nyatanya sangat menggangguku. Tak ada yang istimewa sebenarnya perjalanan dengan bus, terlebih banyak orang begini, namun bagiku yang baru pertamakali melakukannya, sungguh adalah hal luar biasa. Pengalaman pertama ini tentu tak benar-benar pertama bagiku. Dulu saat masih kecil ibu sering mengajakku bepergian dengan naik bus, namun saat itu aku tak pernah merasa ada yang berbeda dengan kendaraan apa pun, entah itu mobil, sepeda motor, bus, atau pun kereta.
Dulu aku cukup duduk diam dan memerhatikan jalan yang pasti tak akan kurekam dalam memori masa kecilku. Aku tak perlu berpikir akan kemana dan dengan apa aku mencapai tujuan, atau berpikir kendaraan apa dan harus berapa kali berganti kendaraan, karena ibu akan menggandeng tanganku atau bahkan menggendongku karena langkah kecil yang lamban dan semua akan selesai begitu saja. Itu sudah lebih dari dua belas tahun yang lalu, kini aku harus memikirkan kemana arah tujuanku, dengan apa aku kesana, dan dengan biaya berapa aku kesana serta perincian biaya tak terduga untuk minum saat haus atau bahkan memberi lima ratus rupiah untuk pengamen dan lain semacamnya. Bapak bukanlah seseorang yang akan berbelas kasihan kepadaku meski tahu bahwa aku tak pernah naik bus sendiri, kemandirian adalah hal yang harus dimiliki anak-anaknya, tak peduli seberat apa pun masalah harus dihadapi, kekuatan diri sendirilah yang harus digunakan.
Bus berjalan baik-baik saja, adakalanya aku berpikir alangkah bahagianya aku kalau keterpaksaanku naik bus ini bukanlah untuk mencari pekerjaan melainkan untuk kuliah. Aku memejamkan mata karena ingin bersantai dalam bus, menghilangkan pikiran-pikiran seperti kuliah yang membuatku sedih dan tidur, sesuatu yang tak bisa kulakukan ketika aku mengendarai sepeda motor. Sampai detik-detik menegangkan itu datang. 
Aku kaget dan terbangun karena bus berbelok dengan kecepatan tinggi sehingga kami para penumpang harus berpegang erat kepada apapun agar tak jatuh dari tempat duduk. Semua orang tampak biasa saja. Jangan berpikir terlalu cepat, tak ada kecelakaan ataupun musibah seperti dalam film-film drama seperti sang sopir membanting stir dan mobil akhirnya menabrak tiang listrik. Kondisi jalan yang memang berada di perbukitan dan berkelok membuat bus berjalan naik turun dengan belokan-belokan yang kadang cukup tajam menurutku. 
Aku tak merasakan hal yang istimewa ketika menggunakan sepeda motor melalui jalan ini. Kecepatan dapat diatur sedemikian rupa agar tubuh tak perlu merasa diombang-ambing, namun tak kusangka jika demikian menakutkan ketika menggunakan bus, ketakutan seperti mendekap erat tak mau pergi dan kekhawatiran datang silih berganti. Bayangan-bayangan mengerikan yang sering kusaksikan dalam berita dan film drama muncul dalam kerjap-kerjap flash yang silih berganti.
Sebenarnya ketika naik motor pun adakalanya aku merasa takut karena terlampau sering kulihat bus atau mobil-mobil besar demikian miring disebabkan medan jalan yang tak rata, perasaan dan pikiran-pikiran menakutkan kalau-kalau bus atau mobil-mobil itu terjengkang dan menimpaku yang berpapasan berlawanan arah dengannya tak bisa tidak hadir dalam pikiranku, memberikan aku ketakutan dan membuatku merasa harus berada dalam jarak sejauh mungkin dengan kendaraan-kendaraan itu.
Tak kurang jika perasaan yang kurasakan saat ini layaknya ketika menaiki roller coaster, sebuah wahana dengan kereta mini yang melaju dengan kecepatan tinggi di tempat bermain, yang begitu menantang menarik perhatian siapa saja yang memiliki keberanian untuk menaikinya dan dengan terpaksa harus mengeluarkan seluruh isi perutjika tak sanggup lagi menahan muntah ketika wahana itu tak terkalahkan. 
Maka yang kualami saat ini persis sama. Perutku terasa diaduk-aduk, kepalaku pusing, dan aku merasa mual. Seluruh isi perut rasanya perlahan naik ingin keluar, air liurku berubah rasa, menjadi sebuah rasa aneh yang menambah mual dan pusing yang aku rasakan. Tak ada angin kencang yang menampar wajah seperti ketika menaiki roller coaster, namun perasaan terombang-ambing tak berlebihan jika kusamakan.
Tak hanya itu, kini aku menyesal. Aku menyesal karena harus mempercayakan seluruh hidup dan perjuanganku kepada seorang sopir yang mengejar setoran harian. Di perbukitan seperti ini tak sulit untuk sekadar menemukan jurang yang dalam di depan mata, bahkan tak sulit menemukan jalan dengan belokan tajam tanpa pembatas jalan. Maka tak perlu pun bersusah payah jika ingin menerjunkan diri dengan bebas ke jurang yang dalam itu. Tak berlebihan bahkan jika kukatakan sang sopir “ugal-ugalan” dan membahayakan para penumpang. Realitas yang tak akan terhindarkan dalam hidup ketika naik kendaraan umum adalah terkadang kita menyerahkan diri dan seluruh hidup kita pada seseorang yang bahkan tak kita tahu namanya, dan dengan jelas tak mungkin kita tahu apakah ia masih termotivasi untuk hidup ataupun tidak, namun kita dengan mudah dan gampangnya harus percaya.
Dan realitas berikutnya yang kutemukan serta terdengar aneh, gila bahkan konyol adalah aku dengan terpaksa akan naik bus ini lagi ketika pulang nanti. Sungguh tak bisa dipercaya.
Aku terus menelan ludah, seakan-akan mendorong dan memaksa masuk semua isi perut yang hendak keluar, segala upaya ini justru semakin menyiksaku, namun dengan rasa sosial yang tinggi aku terus berupaya menahannya agar penumpang bus yang lain tak merasa terganggu denganku. Masih satu setengah jam lagi aku akan tersiksa, butuh waktu dua jam sejak bus berangkat untuk sampai di Terminal Tirtonadi Kota Solo. 
Aku memaksa diri untuk tidur dan melupakan rasa mual dan pusing, membayangkan diri sedang berada di kereta dengan AC yang dingin dan bau yang wangi, sesekali halusinasi itu dapat meringankan rasa mual dan pusingku, namun tak bertahan lama rasa mualku bertambah ketika aku menghirup asap rokok yang berasal dari belakang bus. Aku tak mencari tahu siapa perokok yang tak memiliki jiwa sosial dan perikemanusiaan itu. Hanya terus menggerutu dalam hati, bagaimana mungkun ia merokok di dalam bus yang sumpek dengan sedikit pernapasan ini, tetapi aku tak mau menambah kebencian dengan menoleh kebelakang melihat wajahnya. 
Aku berusaha menutup hidungku dengan jilbab karena tak membawa masker, namun sungguh sial, asapitu terus saja berdatangan dari belakang seperti sebuah aroma yang menarik dan membuat kita terus terfokus untuk mencari darimana asalnya. Bukan untuk tahu aroma apa itu, dan menikmatinya seperti aroma yang dihasilkan sebuah makanan yang enak, tetapi justru untuk segera mendamprat orang yang menyebabkan bau itu dan memaki dengan kata yang paling kasar dan jahat agar begitu jelas tak perlu diterjemahkan untuk dipahami bahwa itu adalah makian.
Setiap kali asap rokok bergulung datang dari belakang, aku merasa tak kuat dan ingin memutahkan semuanya, namun sial hatiku menolak melakukannya. Sungguh baik sekali aku kadang-kadang. Penderitaanku tak berkurang sedikitpun melainkan semakin buruk saja kurasakan, maka aku menghibur diri dengan melihat jalan untuk tahu seberapa lama lagi aku harus bertahan dalam penderitaan ini. Aku jelas tahu dan hafal bahwa aku masih harus bertahan satu jam lagi, namun kukatakan pada diriku sendiri bahwa sebentar lagi bus ini akan sampai. Kata-kata itu dan hanya itu yang terus aku ulangi meskipun sama sekali tak membantu dan tak memberi dampak apapun.Dalam keadaan seperti ini sering sekali kutemukan otakku tak lagi bekerja. Melakukan sesuatu untuk menghibur diri sendiri adalah pekerjaan yang sungguh aneh, namun tak sedikit yang melakukannya.
Dan rasa frustasiku ini mencapai klimaks. Kekuatanku seperti sebuah tembok yang hancur berkeping-keping karena di bom oleh musuh. Tak tanggung-tanggung musuhku menggunakan nuklir, sesuatu yang tak bisa kutandingi dengan tongkat atau bambu kuning. Maka aku kalah telak dan menyatakan kekalahan dengan mengibarkan bendera putih. “Turun sini Pak!!!!....”

You Might Also Like

0 comments: