RELA - Sebuah Perjalanan ke Terminal Tirtonadi
![]() |
| WallpaperCave |
Aneh memang kedengarannya ketika harus mempercayakan
hidup kepada seseorang yang baru ditemui saat itu juga dan tanpa sebuah
perkenalan. Aneh kupikir ketika sibuk mencari seseorang yang dapat dipercaya
dalam jangka waktu yang lama namun kini duduk menunggu menyerahkan diri begitu
saja, layaknya hewan kurban yang jalan saja dibawa ke penjaggalan tak meronta.
Itulah yang aku alami hari ini.
Tak menyangka rasanya, hari seperti ini datang
juga, hari dimana aku akan melihat dunia sejelas-jelasnya, tak lagi mendengar
dan mempelajari apa yang dialami orang lain melainkan terjun langsung meninjau
TKP dan menulis kisah nyataku sendiri. Tempat kejadiannya bernama “dunia nyata”
dan perkaranya adalah “realitas”.
Bapak mengantarkan aku sampai di perempatan jalan
besar tempat bus berhenti. Hari ini untuk pertama kalinya aku naik bus sendiri.
Tak ada yang istimewa dari sebuah perjalanan dengan bus di siang hari, namun
kebutaanku terhadap angkutan umumlah yang membuat peristiwa ini benar-benar
terasa luar biasa. Kebutaanku ini bukanlah karena aku demikian udik karena
dalam jangka waktu yang lama tinggal di pedesaan, melainkan aku terbiasa keluar
kota dengan sepeda motor.
Aku tak pernah pusing memikirkan jalan-jalan yang tak
pernah aku lewati karena di jaman “now” segala dapat diakses dalam genggaman
tangan. Tak pelu takut untuk tersesat ketika mengendarai sepeda motor karena segala
kemudahan telah demikian dekat sehingga seseorang tak bisa lagi bersusahpayah
meskipun ingin untuk berpayah-payah. Namun berbeda dengan bus hari ini. Jaman
“now” sudah tak lagi terasa bagiku. Saat ini aku layaknya anak pedalaman tanpa
telepon genggam dilepas di ibukota Negara. Takut dan bingung tak memiliki arah
tujuan dan tak tahu harus kemana. Dramatis sekali,
Aku dan bapak menunggu bus yang biasa lewat di jalan
ini, dalam hati aku berharap bus tak akan pernah datang. Namun inilah jalan
transportasi itu, sebuah bus tampak mendekat dari kejauhan, bapak
memberhentikan bus tersebut. Aku yang sedari tadi mengoceh khawatir karena tak
pernah naik bus sendiri sebelumnya, tak bisa berbuat apa pun selain bersiap
naik bus yang mendekat. Bapak meyakinkanku dan membuatku berani. Tak ada
gunanya karena semua kata-kata bapak lenyap begitu saja dalam pikiranku dan aku
hanya fokus pada detik-detik aku harus pergi dengan bus itu.
Aku berpamitan,
mencium tangan bapak dan menaiki bus dengan jantung yang berdebar-debar.
Setelah memasuki bus, tak lagi kulihat wajah bapak. Aku membuat diriku setenang
mungkin agar tampak seperti orang yang terbiasa naik bus. Pengalaman pertama
ini adalah suatu kebencian dalam diriku. Aku adalah seorang yang introved, tak
suka terlalu akrab dengan sembarang orang, dan sangat tak suka bertanya kesana
kemari seperti yang diperintahkan bapak jika tak tahu lagi akan naik bus yang
mana untuk melanjutkan perjalanan, itulah kenapa aku lebih mencintai kendaraan
pribadi ketimbang kendaraan umum, tapi apa daya, aku kini tak memiliki sepeda
motor.
Bus mulai bergerak, jantungku berdebar lebih cepat
dan merasa gugup, seperti akan ada kejadian buruk yang menimpaku, meski itu
hanya sebuah perasaan, namun nyatanya sangat menggangguku. Tak ada yang
istimewa sebenarnya perjalanan dengan bus, terlebih banyak orang begini, namun
bagiku yang baru pertamakali melakukannya, sungguh adalah hal luar biasa. Pengalaman
pertama ini tentu tak benar-benar pertama bagiku. Dulu saat masih kecil ibu
sering mengajakku bepergian dengan naik bus, namun saat itu aku tak pernah
merasa ada yang berbeda dengan kendaraan apa pun, entah itu mobil, sepeda
motor, bus, atau pun kereta.
Dulu aku cukup duduk diam dan memerhatikan jalan
yang pasti tak akan kurekam dalam memori masa kecilku. Aku tak perlu berpikir
akan kemana dan dengan apa aku mencapai tujuan, atau berpikir kendaraan apa dan
harus berapa kali berganti kendaraan, karena ibu akan menggandeng tanganku atau
bahkan menggendongku karena langkah kecil yang lamban dan semua akan selesai
begitu saja. Itu sudah lebih dari dua belas tahun yang lalu, kini aku harus
memikirkan kemana arah tujuanku, dengan apa aku kesana, dan dengan biaya berapa
aku kesana serta perincian biaya tak terduga untuk minum saat haus atau bahkan
memberi lima ratus rupiah untuk pengamen dan lain semacamnya. Bapak bukanlah
seseorang yang akan berbelas kasihan kepadaku meski tahu bahwa aku tak pernah
naik bus sendiri, kemandirian adalah hal yang harus dimiliki anak-anaknya, tak
peduli seberat apa pun masalah harus dihadapi, kekuatan diri sendirilah yang
harus digunakan.
Bus berjalan baik-baik saja, adakalanya aku berpikir
alangkah bahagianya aku kalau keterpaksaanku naik bus ini bukanlah untuk
mencari pekerjaan melainkan untuk kuliah. Aku memejamkan mata karena ingin
bersantai dalam bus, menghilangkan pikiran-pikiran seperti kuliah yang
membuatku sedih dan tidur, sesuatu yang tak bisa kulakukan ketika aku
mengendarai sepeda motor. Sampai detik-detik menegangkan itu datang.
Aku kaget
dan terbangun karena bus berbelok dengan kecepatan tinggi sehingga kami para
penumpang harus berpegang erat kepada apapun agar tak jatuh dari tempat duduk.
Semua orang tampak biasa saja. Jangan berpikir terlalu cepat, tak ada
kecelakaan ataupun musibah seperti dalam film-film drama seperti sang sopir
membanting stir dan mobil akhirnya menabrak tiang listrik. Kondisi jalan yang
memang berada di perbukitan dan berkelok membuat bus berjalan naik turun dengan
belokan-belokan yang kadang cukup tajam menurutku.
Aku tak merasakan hal yang
istimewa ketika menggunakan sepeda motor melalui jalan ini. Kecepatan dapat
diatur sedemikian rupa agar tubuh tak perlu merasa diombang-ambing, namun tak
kusangka jika demikian menakutkan ketika menggunakan bus, ketakutan seperti
mendekap erat tak mau pergi dan kekhawatiran datang silih berganti.
Bayangan-bayangan mengerikan yang sering kusaksikan dalam berita dan film drama
muncul dalam kerjap-kerjap flash yang
silih berganti.
Sebenarnya ketika naik motor pun adakalanya aku
merasa takut karena terlampau sering kulihat bus atau mobil-mobil besar
demikian miring disebabkan medan jalan yang tak rata, perasaan dan
pikiran-pikiran menakutkan kalau-kalau bus atau mobil-mobil itu terjengkang dan
menimpaku yang berpapasan berlawanan arah dengannya tak bisa tidak hadir dalam
pikiranku, memberikan aku ketakutan dan membuatku merasa harus berada dalam
jarak sejauh mungkin dengan kendaraan-kendaraan itu.
Tak kurang jika perasaan yang kurasakan saat ini
layaknya ketika menaiki roller coaster,
sebuah wahana dengan kereta mini yang melaju dengan kecepatan tinggi di tempat
bermain, yang begitu menantang menarik perhatian siapa saja yang memiliki keberanian
untuk menaikinya dan dengan terpaksa harus mengeluarkan seluruh isi perutjika
tak sanggup lagi menahan muntah ketika wahana itu tak terkalahkan.
Maka yang
kualami saat ini persis sama. Perutku terasa diaduk-aduk, kepalaku pusing, dan
aku merasa mual. Seluruh isi perut rasanya perlahan naik ingin keluar, air
liurku berubah rasa, menjadi sebuah rasa aneh yang menambah mual dan pusing
yang aku rasakan. Tak ada angin kencang yang menampar wajah seperti ketika
menaiki roller coaster, namun
perasaan terombang-ambing tak berlebihan jika kusamakan.
Tak hanya itu, kini aku menyesal. Aku menyesal
karena harus mempercayakan seluruh hidup dan perjuanganku kepada seorang sopir
yang mengejar setoran harian. Di perbukitan seperti ini tak sulit untuk sekadar
menemukan jurang yang dalam di depan mata, bahkan tak sulit menemukan jalan
dengan belokan tajam tanpa pembatas jalan. Maka tak perlu pun bersusah payah
jika ingin menerjunkan diri dengan bebas ke jurang yang dalam itu. Tak
berlebihan bahkan jika kukatakan sang sopir “ugal-ugalan” dan membahayakan para
penumpang. Realitas yang tak akan terhindarkan dalam hidup ketika naik
kendaraan umum adalah terkadang kita menyerahkan diri dan seluruh hidup kita
pada seseorang yang bahkan tak kita tahu namanya, dan dengan jelas tak mungkin
kita tahu apakah ia masih termotivasi untuk hidup ataupun tidak, namun kita
dengan mudah dan gampangnya harus percaya.
Dan realitas berikutnya yang kutemukan serta
terdengar aneh, gila bahkan konyol adalah aku dengan terpaksa akan naik bus ini
lagi ketika pulang nanti. Sungguh tak bisa dipercaya.
Aku terus menelan ludah, seakan-akan mendorong dan
memaksa masuk semua isi perut yang hendak keluar, segala upaya ini justru
semakin menyiksaku, namun dengan rasa sosial yang tinggi aku terus berupaya
menahannya agar penumpang bus yang lain tak merasa terganggu denganku. Masih
satu setengah jam lagi aku akan tersiksa, butuh waktu dua jam sejak bus
berangkat untuk sampai di Terminal Tirtonadi Kota Solo.
Aku memaksa diri untuk
tidur dan melupakan rasa mual dan pusing, membayangkan diri sedang berada di
kereta dengan AC yang dingin dan bau yang wangi, sesekali halusinasi itu dapat
meringankan rasa mual dan pusingku, namun tak bertahan lama rasa mualku
bertambah ketika aku menghirup asap rokok yang berasal dari belakang bus. Aku
tak mencari tahu siapa perokok yang tak memiliki jiwa sosial dan
perikemanusiaan itu. Hanya terus menggerutu dalam hati, bagaimana mungkun ia
merokok di dalam bus yang sumpek dengan sedikit pernapasan ini, tetapi aku tak mau
menambah kebencian dengan menoleh kebelakang melihat wajahnya.
Aku berusaha
menutup hidungku dengan jilbab karena tak membawa masker, namun sungguh sial,
asapitu terus saja berdatangan dari belakang seperti sebuah aroma yang menarik
dan membuat kita terus terfokus untuk mencari darimana asalnya. Bukan untuk
tahu aroma apa itu, dan menikmatinya seperti aroma yang dihasilkan sebuah
makanan yang enak, tetapi justru untuk segera mendamprat orang yang menyebabkan
bau itu dan memaki dengan kata yang paling kasar dan jahat agar begitu jelas
tak perlu diterjemahkan untuk dipahami bahwa itu adalah makian.
Setiap kali asap rokok bergulung datang dari
belakang, aku merasa tak kuat dan ingin memutahkan semuanya, namun sial hatiku
menolak melakukannya. Sungguh baik sekali aku kadang-kadang. Penderitaanku tak
berkurang sedikitpun melainkan semakin buruk saja kurasakan, maka aku menghibur
diri dengan melihat jalan untuk tahu seberapa lama lagi aku harus bertahan
dalam penderitaan ini. Aku jelas tahu dan hafal bahwa aku masih harus bertahan satu
jam lagi, namun kukatakan pada diriku sendiri bahwa sebentar lagi bus ini akan
sampai. Kata-kata itu dan hanya itu yang terus aku ulangi meskipun sama sekali
tak membantu dan tak memberi dampak apapun.Dalam keadaan seperti ini sering
sekali kutemukan otakku tak lagi bekerja. Melakukan sesuatu untuk menghibur
diri sendiri adalah pekerjaan yang sungguh aneh, namun tak sedikit yang
melakukannya.
Dan rasa frustasiku ini mencapai klimaks. Kekuatanku
seperti sebuah tembok yang hancur berkeping-keping karena di bom oleh musuh.
Tak tanggung-tanggung musuhku menggunakan nuklir, sesuatu yang tak bisa
kutandingi dengan tongkat atau bambu kuning. Maka aku kalah telak dan
menyatakan kekalahan dengan mengibarkan bendera putih. “Turun sini Pak!!!!....”


0 comments: