Mengapa harus belajar sesuatu yang tidak kita mengerti untuk apa manfaatnya? II

March 13, 2019 Mimia Mia 0 Comments

Pinterest



“Belajar tanpa berpikir itu tidaklah berguna, tapi berpikir tanpa belajar itu sangatlah berbahaya.” Ir. Soekarno.

Sebelum membaca ini, saya anjurkan kalian untuk membaca terlebih dahulu artikel sebelumnya.Mengapa harus belajar sesuatu yang tidak kita mengerti untuk apa manfaatnya? Pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya saya ajukan, adalah tak lebih untuk mengetahui apakah kita berpikir ketika belajar?.

Melihat demikian banyak siswa di luar sana dengan kemampuan luar biasa, agaknya membuat saya iri hati. Sementara saya juga bersedih melihat beberapa teman yang hanya patuh-patuh saja disuapi materi dan diukur kecerdasan otaknya hanya dengan nilai bagus di sekolah.

Saya menaruh perhatian kepada teman-teman lain juga generasi setelah saya yang terus belajar untuk nilai yang bagus. Semua orang bisa berkata nilai itu tidak penting. Lalu apa yang harus siswa lakukan ketika ujian? Dan mengapa ujian masih digunakan?

Menurut saya, jika nilai tidaklah sesuatu yang penting, maka ujian harusnya ditiadakan.

Bagaimana mungkin kita bisa lepas dari sistem belajar tanpa berpikir jika ujian masih ada?.

Saya yakin banyak orang yang menyadari bahwa waktunya terbuang sia-sia hanya untuk mempelajari sesuatu yang tak berarti. Saya tidak mengatakan ada mata pelajaran yang diajarkan di sekolah setiap harinya tak berguna. Saya yakin semuanya berguna, tetapi belajar dengan mengulang dan menghafal, adalah sesuatu yang membuang waktu. Mengapa demikian, karena banyak dari mereka tak tahu arti dari apa yang dihafal. Materi terus di ulang dari waktu ke waktu sehingga banyak siswa yang hafal, lupa, hafal, dan melupakannya lagi.

Suatu hari ketika masih SMA, dalam mata pelajaran bahasa, saya pernah mengajukan sebuah gagasan untuk mempelajari karya sastra seperti novel dan cerpen tidak terbatas pada buku pelajaran. Akan menyenangkan untuk menggunakan novel secara langsung sebagai objek untuk pembelajaran. Karena saya berpikir, saya membuang waktu ketika mempelajari novel hanya membahas unsur-unsur dalam novel dan mengulang kembali apa yang pernah disampaikan ketika SMP dulu. Jawaban guru saya pada hari itu cukup membuat saya berpikir. “Kita belajar harus mengikuti kurikulum. Saya tahu kamu mampu untuk belajar lebih, tetapi belum tentu teman-temanmu mampu.” Kurang lebih begitu katanya.

Dua hal yang terus saya pikirkan, pertama apakah pembelajaran harus kaku dan terkekang oleh kurikulum? Dan ketika saya mampu belajar sendiri, apakah itu artinya saya tidak perlu ke sekolah? Justru bukankah kita harus mencoba agar belajar terasa menyenangkan?

Saya hanya diam tanpa membantah hari itu, selain karena minim ilmu, saya juga menghormati guru. Dan memilih untuk diam saja. Beberapa kejadian serupa saya dapati di hari-hari lain dengan ide-ide dan tanggapan yang berbeda. Jawaban yang saya dapatkan sama, seolah saya adalah anak yang sok pintar. Begitulah saya mengartikan tanggapan yang saya dapatkan. Sampai saya benar-benar ingin berhenti sekolah setelah menonton salah satu episode bersama Andi Rizki Putra yang ditayangkan Kick Andy di MetroTV tiga tahun yang lalu.

Saya tak lantas hengkang dari sekolah. Perasaan orang tua tentu harus pula saya pikirkan. Saya cukup bersemangat mendengar adanya kurikulum baru. Dalam kurikulum K13 siswa dituntut untuk lebih kritis dan kita lebih bebas dalam belajar. Tetapi apakah ini berhasil?.

“Kita dapat mengubah kurikulum sekolah, mengubah standar pengujian siswa dan guru, meningkatkan keterlibatan orang tua dan komunitas dalam proses pendidikan, dan meningkatkan anggaran pendidikan sehingga lebih banyak siswa yang dapat menjadi bagian dari era komputer. Tak satupun dari langkah-langkah ini secara tunggal akan menghasilkan perbedaan yang signifikan kecuali bila siswa diberi kesempatan untuk belajar secara lebih mindful.” Ellen J. Langer.

You Might Also Like

0 comments: