Mengapa harus belajar sesuatu yang tidak kita mengerti untuk apa manfaatnya? II
![]() |
“Belajar tanpa berpikir itu tidaklah berguna, tapi
berpikir tanpa belajar itu sangatlah berbahaya.” Ir. Soekarno.
Sebelum membaca ini, saya anjurkan kalian untuk membaca
terlebih dahulu artikel sebelumnya.Mengapa harus belajar sesuatu yang tidak kita mengerti untuk apa manfaatnya? Pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya saya
ajukan, adalah tak lebih untuk mengetahui apakah kita berpikir ketika belajar?.
Melihat
demikian banyak siswa di luar sana dengan kemampuan luar biasa, agaknya membuat
saya iri hati. Sementara saya juga bersedih melihat beberapa teman yang hanya
patuh-patuh saja disuapi materi dan diukur kecerdasan otaknya hanya dengan
nilai bagus di sekolah.
Saya menaruh perhatian kepada teman-teman lain juga
generasi setelah saya yang terus belajar untuk nilai yang bagus. Semua orang
bisa berkata nilai itu tidak penting. Lalu apa yang harus siswa lakukan ketika
ujian? Dan mengapa ujian masih digunakan?
Menurut saya, jika nilai tidaklah sesuatu yang
penting, maka ujian harusnya ditiadakan.
Bagaimana mungkin kita bisa lepas dari sistem belajar
tanpa berpikir jika ujian masih ada?.
Saya yakin banyak orang yang menyadari bahwa waktunya
terbuang sia-sia hanya untuk mempelajari sesuatu yang tak berarti. Saya tidak
mengatakan ada mata pelajaran yang diajarkan di sekolah setiap harinya tak
berguna. Saya yakin semuanya berguna, tetapi belajar dengan mengulang dan
menghafal, adalah sesuatu yang membuang waktu. Mengapa demikian, karena banyak
dari mereka tak tahu arti dari apa yang dihafal. Materi terus di ulang dari
waktu ke waktu sehingga banyak siswa yang hafal, lupa, hafal, dan melupakannya
lagi.
Suatu hari ketika masih SMA, dalam mata pelajaran
bahasa, saya pernah mengajukan sebuah gagasan untuk mempelajari karya sastra
seperti novel dan cerpen tidak terbatas pada buku pelajaran. Akan menyenangkan
untuk menggunakan novel secara langsung sebagai objek untuk pembelajaran.
Karena saya berpikir, saya membuang waktu ketika mempelajari novel hanya
membahas unsur-unsur dalam novel dan mengulang kembali apa yang pernah disampaikan
ketika SMP dulu. Jawaban guru saya pada hari itu cukup membuat saya berpikir.
“Kita belajar harus mengikuti kurikulum. Saya tahu kamu mampu untuk belajar
lebih, tetapi belum tentu teman-temanmu mampu.” Kurang lebih begitu katanya.
Dua hal yang terus saya pikirkan, pertama apakah
pembelajaran harus kaku dan terkekang oleh kurikulum? Dan ketika saya mampu
belajar sendiri, apakah itu artinya saya tidak perlu ke sekolah? Justru
bukankah kita harus mencoba agar belajar terasa menyenangkan?
Saya hanya diam tanpa membantah hari itu, selain
karena minim ilmu, saya juga menghormati guru. Dan memilih untuk diam saja. Beberapa
kejadian serupa saya dapati di hari-hari lain dengan ide-ide dan tanggapan yang
berbeda. Jawaban yang saya dapatkan sama, seolah saya adalah anak yang sok
pintar. Begitulah saya mengartikan tanggapan yang saya dapatkan. Sampai saya
benar-benar ingin berhenti sekolah setelah menonton salah satu episode bersama
Andi Rizki Putra yang ditayangkan Kick Andy di MetroTV tiga tahun yang lalu.
Saya tak lantas hengkang dari sekolah. Perasaan orang
tua tentu harus pula saya pikirkan. Saya cukup bersemangat mendengar adanya
kurikulum baru. Dalam kurikulum K13 siswa dituntut untuk lebih kritis dan kita
lebih bebas dalam belajar. Tetapi apakah ini berhasil?.
“Kita dapat mengubah kurikulum sekolah, mengubah standar
pengujian siswa dan guru, meningkatkan keterlibatan orang tua dan komunitas
dalam proses pendidikan, dan meningkatkan anggaran pendidikan sehingga lebih
banyak siswa yang dapat menjadi bagian dari era komputer. Tak satupun dari
langkah-langkah ini secara tunggal akan menghasilkan perbedaan yang signifikan
kecuali bila siswa diberi kesempatan untuk belajar secara lebih mindful.” Ellen J. Langer.


0 comments: