Dunia yang Kita Tempati

March 24, 2019 Kiki Widayanti 0 Comments

Pinterest

  1. Kejahatan
Di dunia kita, kejahatan berbentuk abstrak. Tak memiliki ukuran baku. Semua orang bisa saja melakukan kejahatan, semua orang bisa saja dihukum. Namun, sesekali hukum buta akan kejahatan. Barangkali karena bukan Tuhan yang Maha Adil. Aku mengerti.
Pun, tentang orang-orang yang hidup di dunia ini. Ia bisa begitu pandai menilai siapa yang jahat dan siapa yang baik. Ia juga jadi begitu berhak menghakimi seseorang yang  di-rasa salah. Hanya karena tidak suka, manusia bisa menjadi sangat hina.
Maka semua orang di dunia ini melakukan kejahatan, sebab tidak ada satu orang pun yang terhindar dari rasa tidak suka orang lain.
  1. Salah dan Benar
Salah adalah benar dan benar adalah salah. Kala itu seseorang turun dari sebuah kereta, orang-orang ramai berteriak, mengerumuni wanita ringkih dan telah berumur. Dia wanita tua yang dituduh mencuri dompet. Tangannya gemetar, air mata beruraian, jantungnya tidak lagi berdetak normal. Ia yang tua tidak mampu menyaingi semangat menggebu oleh mulut para anak muda yang kini melingkarinya. Ia bersimpuh di kaki mereka, sebagai orang tua dan manusia tetapi tak ada yang mendengar. Tak ada yang berusaha menjadi telinga untuk mendengarkan.
Bahkan meski tidak bisa menjadi mata, sulitkah menjadi telinga? Meski tidak bisa menerima kesalahan itu, tidak bisakah melihatnya sebagai manusia. Lihatlah kulitnya yang keriput, serupa kulit ibu mereka di rumah.
Seseorang yang baru saja turun dari kereta itu, adalah sang anak. Yang pergi meski melihat ibunya duduk bersimpuh di antara para manusia yang menghujat. Ia pergi, malu. Tak ingin dikenal sebagai anak wanita itu.
Wahai dunia, jika kamu ingin menghukum. Maka, hukumlah sang anak. Ialah kesalahan yang salah. Sedang sang wanita adalah kebenaran yang benar. Sebab, dia hanya ingin mengembalikan dompet yang jatuh. Namun tak ada orang percaya sebab penampilan lusuh.
Ada banyak sekali kesalahan yang dibenarkan dan kebenaran yang disalahkan. Akibat manusia terlalu angkuh untuk menggunakan mata dan telinga.
  1. Dosa
Seandainya bumi mampu berbicara, sanggupkah kamu menutupi dosa yang telah dilakukan? Semesta terlalu baik, membuat bumi bisu agar manusia tidak perlu malu. Ya, manusia makhluk pemalu.
Tetapi, kini semesta merana. Menangis sepanjang malam dan pagi. Menyesal akan keputusan yang dulu ia ambil. Kini semua tidak seperti yang ia harapkan.
Manusia yang dilindunginya dari rasa malu jika bumi jahil menceritakan setiap perbuatan mereka pada manusia yang lain. Kini tak lagi punya rasa malu. Kini bahkan terang-terangan melakukannya di depan orang lain.
“Tak apa, Semesta. Kini kita punya hiburan baru. Mari nikmati saja, melihat yang dosa mendosakan si suci. Dan yang dosa terlihat suci. Suatu hari, mereka akan datang ke hadapan kita, saat itu tumpahkan segala kecewamu. Kau berhak melakukannya.”
  1. Pengakuan
Seseorang kerap sekali menjadi resah akan sebuah pengakuan. Mereka lantas menjadi lebih lantang dalam berbicara agar terlihat paling benar, lalu mengumbar aib orang lain agar terlihat paling baik. Mereka akan mendapat banyak pengakuan daripada si pendiam yang benar.
Tanpa sadar terserap arus hitam yang mematikan. Sebab yang percaya padanya, hanya orang-orang semacam dirinya. Lalu suatu hari dia juga akan menjadi korban. Begitu seterusnya, sebab sekumpulan ini akan menjelekkan kumpulannya sendiri. Karena begitulah sifat mereka.
  1. Cinta
Adalah yang paling rumit dari apa pun di dunia. Ia bisa menjadi musuh yang menakutkan tetapi juga bisa menjadi cinta yang menghangatkan. Adanya warna bagi dunia, tetapi manusia tetap tak sempurna dan tak mampu bersanding dengan cinta yang sempurna. Sebab, sesekali hadirnya menghanyutkan meski adanya tak kasat mata.
Hadirnya bisa menjadi bambu yang siap menikam, semua demi cinta, begitu katanya. Sesekali membuat yang pintar menjadi bodoh, lagi-lagi semua demi cinta katanya.
Cinta terlalu sempurna, karena itu kita akan terpesona. Menjadi budak yang penurut. Menjadi abdi yang setia. Dan menjadi kekasih yang bodoh
Begitulah dunia yang kita tempati, semua yang terlihat semestinya, semua yang benar, semua cinta yang menggebu. Hanyalah keabstrakan. Tidak nampak, tak mampu digenggam kebenarannya. Tak bisa dikendalikan. Ia mampu menjatuhkanmu sampai hancur berkeping-keping.
Dunia memang begitu. Namun kamu boleh memilih. Sebab hati adalah organ yang ada di dalam tubuhmu, mengapa dunia mampu menjadi tuannya. Kamu lah sang tuan.

You Might Also Like

0 comments: