Trophy

March 15, 2019 Mimia Mia 3 Comments


Tempat ini asing, kami layaknya seorang tamu yang diabaikan. Berdiri di depan ruang tata usaha, melihat orang lain dengan percaya diri berjalan lalu-lalang di depan kami. Sesekali kudengar mereka yang lewat mengatakan. “Oh, itu yang dari filial.” Kemudian berlalu. Layaknya anak hilang, kami diam, berkumpul, celingak-celinguk memperhatikan sekitar.
Ini adalah momen kelulusan yang tak menyenangkan.
Banyak kulihat di instagram atau di film yang genrenya merupakan anak SMA, demikian excited menyambut acara kelulusan untuk penutup luar biasa pengalaman sekolah mereka, dan mempersiapkan banyak hal untuk itu. Berbagai ide muncul di kepala mereka, mengalir deras layaknya air sungai. Mereka membuat dekorasi cantik, mempersiapkan pengisi acara. Juga mempersiapkan diri untuk tampil di panggung.
Sedang kami, tak melakukan apa pun. Hanya iuran sewajarnya untuk menyokong dana acara. Sebelumnya kami cukup sering datang untuk melaksanakan try out dan ujian. Kami adalah siswa filial atau bisa disebut siswa dari sekolah cabang yang tak begitu dikenal, dan kontribusinya amat kecil dalam menyumbangkan nilai. Bisa dibilang kami adalah anak-anak yang memperkecil nilai rata-rata sekolah. Anak-anak seperti kami adalah anak-anak yang hampir putus sekolah, atau anak dari orang tua yang tak pernah mempertimbangkan kualitas sekolah, atau dari anak-anak yang putus asa tak diterima di sekolah impian mereka.
Jadi tak ada yang cukup luar biasa untuk dikenang. Selama tiga tahun kami tak belajar dengan sungguh-sungguh, melakukan sesuatu karena terpaksa sebab diminta oleh guru dan lebih banyak mengeluh. Aktivitas sehari-hari kami di sekolah adalah mendengarkan guru yang menyampaikan materi dengan kepala yang selalu ingin tumbang mencium meja. Bel istirahat adalah nada yang paling menyenangkan, demo kami adalah ketika guru masih bersemangat mengajar ketika jam pulang. Bahagia kami adalah ketika guru berhalangan masuk. Dan kesan masa SMA kami adalah menumpang ketika try out, ujian, dan bahkan pesta kelulusan.
Kami diminta berbaris memanjang layaknya antrian sembako. Mengantri sesuai absen. Sekolah kami ini merupakan sekolah cabang yang kedua, dan kelas kami adalah kelas IPS B sehingga kami nantinya akan masuk aula di urutan paling akhir. Aku tak berminat dengan acara ini, ingin rasanya segera lari dan pulang. Menyesal telah datang ke sini. Namun karena sudah membayar iuran sebesar lima puluh ribu rupiah, kukatakan sekali lagi li-ma pu-luh ri-bu ru-pi-ah, bapak memintaku tetap datang. Mengenakan kebaya yang kupinjam dari kakak sepupu, tak memakai riasan, kucel diantara putri-putri cantik. Tak memakai hills layaknya mereka, melainkan sepatu alstar yang hampir robek karena kainnya sudah rapuh terkena air dan panas matahari.
Mereka membawa tas-tas kecil atau dompet, sementara aku memakai tas ransel hitam yang sudah kumiliki sejak kelas dua SMP. Dulu tasku ini berwarna hitam, kini ia hitam keabuan. Entah karena merusak pemandangan atau apa, teman-teman meminta agar tasku tak dibawa, hingga tas itu berakhir di penitipan pos satpam.
Kami terus berjalan maju menunggu giliran masuk. Seorang bapak-bapak memerintahkan kami agar mempercepat langkah. Aku tak tahu namanya, tapi pastilah ia guru di sekolah ini. Rambutnya beruban dan memiliki banyak keriput di wajahnya. Aku yakin usianya lima puluh lima lebih. Ia amat sibuk mengorganisir. Menoleh ke segala arah seperti mencari seseorang.
Dari depan ia menanyai satu per satu temanku, sampai kemudian giliranku masuk, ia masih mencari.
“Kamu Mia Rosiana?” tanyanya membuatku bingung.
Aku menjawabnya pelan sembari mengangguk. Aku bingung, juga bertanya-tanya, kenapa ia tahu namaku?
Ia melarangku untuk duduk, aku berdiri menunggu arahan selanjutnya, kulirik teman-teman yang telah menempati tempat mereka masing-masing. Beberapa dari mereka berbisik dan cekikikan juga bertanya-tanya kenapa aku masih bediri.
Guru itu kembali lagi dengan secarik kertas di tangannya. Ia memberiku arahan untuk duduk di depan.
Aku duduk di deretan kursi tepat di belakang tamu undangan, sudah ada dua siswa lain di sana. Yang pertama ia lumayan gendut dan hanya fokus dengan apa yang ia makan, sedang yang satu cukup kurus tak peduli dengan apa pun. Aku tak bisa menebak apa yang dia pikirkan. Karena sedang kacau dengan pikiran sendiri.
Ketika kami genap berenam, kami diminta mundur ke belakang oleh bapak guru tadi, dua wali murid mengikutinya di belakang dan dipersilahkan duduk di tempat yang kami tinggalkan.
Masih sibuk dengan secarik kertas di tangannya, ia kemudian bertanya siapa yang datang bersamaku. Menanyakan nama bapakku kemudian apa baju yang dikenakan. Bapakku muncul bersama bapak guru dan dipersilakan duduk. Bapak guru melihat kembali secarik kertas dalam genggamannya dan memastikan semua sudah lengkap lalu tak kulihat lagi.
Aku duduk dekat anak IPA 1, di mana tak seorang pun kukenal di sana, berada di tengah-tengah mereka membuatku sesak. Hatiku berdebar, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Dan yang paling buruk adalah bapak guru tadi salah memanggil siswa. Mungkin ada beberapa siswa yang namanya sama denganku. Kemungkinan terburuk inilah yang aku yakini. Aku menyiapkan diri untuk menanggung malu.
Seorang siswa yang sedari tadi diam tak peduli menanyakan nilaiku, kukatakan nilai bahasa inggris sangat buruk, dan tak mengingat nilai lain. Ia menghitung nilainya dan memberi tahu seolah aku peduli.
Aku berusaha tenang untuk menambah kepercayaan diri, lagipula aku sudah biasa menghadapi ini, meski hanya rangking dua ketika lulus SMP, paling tidak aku sudah biasa menerima penghargaan nilai bagus. Namun, meski kukerahkan kepercayaan diri, semua ini masih tetap tak masuk akal.
Menghitung dari ujung, mungkin aku akan rangking enam. Yah begitulah karena dari posisi duduk, aku berada paling tengah. Jadi dari posisi duduk kami, untuk mempermudah kami keluar ketika rangking berurutan disebut dari satu sampai enam, telah diatur agar aku duduk di sini. Tak apa aku mendapat rangking 6, sudah cukup bagus. Begitu pikirku.
Waktu pemberian penghargaan tiba. Aku tak berharap banyak.
Rangking satu merupakan seorang anak laki-laki yang tinggi dari jurusan IPA, begitu juga rangking dua. Rangking tiga diberikan kepada seorang anak perempuan yang kurus tinggi. Aku tak tahu siapa mereka.
Aku seperti tak ingin mendengar tetapi juga menunggu.
Rangking tidak dilanjutkan ke rangking empat. Tetapi dibagi sesuai prodi. MC berhenti sejenak menanti tiga juara menempatkan diri bersama wali di atas panggung. Kemudian ia melanjutkan.
“Penghargaan Siswa Berprestasi. Rangking Satu Program Studi IPS dengan nilai Ujian Nasional Tertinggi diberikan kepada Mia Rosiana, Filial Penawangan.”
Rasa bahagia hari itu memberi tangis haru. Saat itu keinginanku bukanlah menjadi yang terbaik melainkan ingin diterima di salah satu universitas yang telah kulamar. Ayahku hanya seorang petani, aku hampir putus sekolah. Dan hari ini, berdiri di sini sebagai juara adalah hadiah kecil yang nanti mungkin tak bisa kuberikan. Aku tak pernah merasa pintar, tak pernah berpikir bahwa nilai akan membawa kesuksesan kelak. Tetapi aku tahu hanya ini yang bisa kulakukan untuk bapak. Pria seorang diri yang menghidupi dua anak dari tanah pinjaman.
Aku bukanlah apa-apa, dan belum menjadi apa-apa. Setelah ini aku tak tahu ke mana. Aku hanya bisa mengandalkan beasiswa, jika tak dapat berarti tak bisa kuliah. Dengan ijasah SMA akhirnya aku akan melamar sebagai buruh pabrik, itu adalah hal paling realistis yang bisa kulakukan setelah ini. Dan bagaimana kisah ini berlanjut. Aku tidak pernah tahu.
Kupikir ini bisa jadi kesuksesan kecil untuk bapakku. Atau ini akan jadi kesuksesan terakhirku untuk beliau. Tetapi hari ini dalam hatiku aku telah berjanji, untuk terus berusaha apa pun yang akan terjadi nanti.




You Might Also Like

3 comments:

  1. Tulisan yang keren, inspiratif 👍🏽👍🏽👍🏽

    Jangan berhenti berusaha. Serius dengan apa yang kamu hadapi 💪🏽💪🏽💪🏽

    ReplyDelete
  2. Salut. Salah satu dari sekian banyak murid Ibu Woro Hapsari yang berprestasi.

    ReplyDelete
  3. Lulus trus rabi biasane,nuuk nan

    ReplyDelete