Diary, To Change the World Into a Better Place
![]() |
| pixabay |
Aku tak mengenal lagi yang namanya hari sibuk. Setiap
hari melingkarkan diri dalam selimut dan membenamkan diri di atas kasur yang
hangat. Tak ada janji, tak ada produktivitas. Seperti sebuah mesin yang telah
dioprasikan dua puluh empat jam dalam sehari kemudian rusak.
Setiap hari memotivasi diri bahwa semuanya belum
berakhir. Waktu nyatanya terus bergulir meski hati rasanya ingin memaksa agar
ia berhenti. Tapi bagaimana caranya?
Waktu tak bisa berhenti. Dan setiap hari mendapati diri
semakin tertinggal dari orang lain. Tertekan… tetapi mungkin ini yang dapat
kukatakan sebagai takdir.
Hari ini, juga kemarin tak ada yang istimewa. Tetapi
sayangnya waktu yang masih dimiliki merupakan hal istimewa yang amat luar
biasa, tak dapat disiakan. TV mengoceh menyampaikan berbagai informasi. Ada
satu hal yang kutangkap dari sebuah acara televisi. Dalam berita Insert kembali
membahas mengenai kasus Audrey yang sedang viral di media sosial.
Geram, juga ingin menangis rasanya. Negri tercinta ini
demikian terikat dengan kongkalikong ketidakadilan yang terus dipelihara.
Mungkin netizen sepertiku ini tak tahu betul mengenai
kasus yang dialami Audrey dengan detail. Tetapi kurasa warganet juga bukan
orang yang bodoh untuk sekedar diombang-ambing berita hoax.
Yang kaya berkedudukan berjaya. Menikmati kekuasaan
yang dimiliki tanpa sedikitpun rasa segan terhadap keadilan, terhadap hak untuk
orang lain. Ada kalanya yang tak berdaya ini sampai lelah untuk membuka suara
lantaran pasti dibungkam dan tak’kan terdengar.
Diam bersimpuh menunggu dunia berubah mungkin bukanlah
hal yang tepat untuk dilakukan. Tetapi melakukan segala cara pun tak cukup
menghasilkan lantaran tak memiliki kedudukan yang cukup kuat.
Dunia tak berubah, namun aku hidup dengan pandangan
bahwa dunia telah berubah dan aku berusaha untuk terus melangkah maju. Tetapi
keyataan yang kutemukan adalah aku hanya hidup dalam duniaku. Aku berhasil
dalam duniaku. Dan semua itu cukup bagiku.
Tetapi apakah hidup hanya untuk memikirkan diri
sendiri?
Menyiksa kurasa, ber-empati tanpa mampu melakukan
sesuatu yang berarti. Semua layaknya omong kosong dan perasaan percuma yang
menggelisahkan hati.
Maka apa yang sebaiknya dilakukan? To change the world
into a better place…


0 comments: