Diary, To Change the World Into a Better Place

April 11, 2019 Mimia Mia 0 Comments

pixabay


Aku tak mengenal lagi yang namanya hari sibuk. Setiap hari melingkarkan diri dalam selimut dan membenamkan diri di atas kasur yang hangat. Tak ada janji, tak ada produktivitas. Seperti sebuah mesin yang telah dioprasikan dua puluh empat jam dalam sehari kemudian rusak.

Setiap hari memotivasi diri bahwa semuanya belum berakhir. Waktu nyatanya terus bergulir meski hati rasanya ingin memaksa agar ia berhenti. Tapi bagaimana caranya?

Waktu tak bisa berhenti. Dan setiap hari mendapati diri semakin tertinggal dari orang lain. Tertekan… tetapi mungkin ini yang dapat kukatakan sebagai takdir.

Hari ini, juga kemarin tak ada yang istimewa. Tetapi sayangnya waktu yang masih dimiliki merupakan hal istimewa yang amat luar biasa, tak dapat disiakan. TV mengoceh menyampaikan berbagai informasi. Ada satu hal yang kutangkap dari sebuah acara televisi. Dalam berita Insert kembali membahas mengenai kasus Audrey yang sedang viral di media sosial.

Geram, juga ingin menangis rasanya. Negri tercinta ini demikian terikat dengan kongkalikong ketidakadilan yang terus dipelihara.

Mungkin netizen sepertiku ini tak tahu betul mengenai kasus yang dialami Audrey dengan detail. Tetapi kurasa warganet juga bukan orang yang bodoh untuk sekedar diombang-ambing berita hoax.

Yang kaya berkedudukan berjaya. Menikmati kekuasaan yang dimiliki tanpa sedikitpun rasa segan terhadap keadilan, terhadap hak untuk orang lain. Ada kalanya yang tak berdaya ini sampai lelah untuk membuka suara lantaran pasti dibungkam dan tak’kan terdengar.

Diam bersimpuh menunggu dunia berubah mungkin bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Tetapi melakukan segala cara pun tak cukup menghasilkan lantaran tak memiliki kedudukan yang cukup kuat.

Dunia tak berubah, namun aku hidup dengan pandangan bahwa dunia telah berubah dan aku berusaha untuk terus melangkah maju. Tetapi keyataan yang kutemukan adalah aku hanya hidup dalam duniaku. Aku berhasil dalam duniaku. Dan semua itu cukup bagiku.

Tetapi apakah hidup hanya untuk memikirkan diri sendiri?

Menyiksa kurasa, ber-empati tanpa mampu melakukan sesuatu yang berarti. Semua layaknya omong kosong dan perasaan percuma yang menggelisahkan hati.

Maka apa yang sebaiknya dilakukan? To change the world into a better place…

You Might Also Like

0 comments: