Mengapa harus belajar sesuatu yang tidak kita mengerti untuk apa manfaatnya?
Belajar Tanpa Berpikir
![]() |
Mari simak cerita pendek berikut .
Ketika ia tiba di bumi, dengan penuh hormat dia menyapa si penyala lampu.
“Selamat pagi. Mengapa Anda memadamkan lampu Anda?”
“Begitulah perintahnya,” jawab si penyala lampu. “Selamat pagi.”
“Apa perintahnya?”
“Perintahnya adalah agar saya memadamkan lampu saya, Selamat sore.”
Dan ia menyalakan lampunya lagi.
“Tetapi mengapa Anda menyalakan lagi lampu itu?”
“Begitulah perintahnya,” jawab si penyala lampu.
“Saya tidak mengerti,” sahut si penyala lampu. “Perintah adalah perintah. Selamat pagi.”
Dan ia memadamkan lampunya.
Lalu dia menyeka dahinya dengan sapu tangan bermotif kotak-kotak merah.
“Saya menjalani profesi yang tidak menyenangkan. Pada masa lalu, profesi ini masuk akal. Saya memadamkan lampu di pagi hari dan menyalakannya lagi di sore hari. Saya menghabiskan sisa hari itu untuk bersantai dan malamnya untuk tidur.”
“Dan perintah tersebut sudah diganti sejak saat itu?
“Perintah itu belum diganti,” kata si penyala lampu.
“Itu merupakan sebuah tragedy! Dari tahun ke tahun, bumi perputar lebih cepat dan perintah itu tidak pernah diganti!”
The Little Prince
ANTOINE DE SAINT-EXUPERI
Saint-Exsupery, A. De. The Little Prince, trans. Katherine Woods (New York: Harcourt Brace, 1943,1971)
Membaca buku adalah hal yang menyenangkan, mengapa ia menyenangkan? Karena ketika membaca buku banyak hal yang bermunculan seperti harapan, masa lalu, dan perubahan suasana hati, juga adakalanya perasaan jengkel muncul akibat terbawa suasana.
Sama halnya ketika membaca buku Mindful Learning oleh Ellen J. Langer, yang saya temukan di perpustakaan sekolah tahun 2015 lalu. Dan karena buku itu saya justru ingin berhenti sekolah. Tak perlu kaget, karena tentu tak hanya karena sebuh buku semata melainkan ada faktor-faktor lain yang membuat saya ingin keluar dari sekolah setelah membacanya.
Salah satu faktor itu adalah karena proses pembelajaran yang membosankan.
Orang yang pertama kali saya hubungi ketika itu adalah kakak sepupu saya yang sedang kuliah di Universitas Semarang. Hal ini tentu bukanlah hal yang baik dalam pandangan umum. Berhenti sekolah hanya karena tak mau mengikuti prosedur pembelajaran yang sudah di tetapkan di sekolah.
Tanpa mengurangi rasa bangga saya terhadap almamater saya. Saya dulu tidak sekolah di Internasional School, juga tidak bersekolah di sekolah favorit, bahkan saya tidak sekolah di sekolah saya sendiri. Mungkin kalian akan langsung menebak saya homeschooling?. Maaf tetapi bukan. Karena saya termasuk dalam golongan menengah kebawah yang nyaris putus sekolah. Jadi tak mungkin bukan?
Yang saya alami di sekolah dulu adalah saya dituntut untuk belajar tanpa berpikir. Kalian tahu bagaimana itu? Padahal meski mental adalah hal penting dalam persiapan belajar tapi bukankah berpikir adalah hal utama dalam belajar?
Jadi saya kira selama ini saya hanya dituntut untuk melakukan sesuatu tanpa berpikir. Bagaimana hal itu dapat mencerdaskan saya?
Sedangkan secara harfiah, berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan. (Sumber; KBBI V)
Tetapi pada kenyataannya selama sekolah, saya melihat sistem belajar siswa yang lebih banyak menghafal tanpa mengerti, tanpa mencerna, dan tanpa memahami daripada yang kritis.
Dan semua itu, seolah sesuatu yang lumrah. Tidak ada yang bisa membawa seseorang keluar dari sistem itu selain keinginan diri sendiri.
Tentu tak ada jawaban yang cukup tepat untuk kondisi saya saat itu kecuali, agar saya mulai berpikir. Saya menemukan banyak orang-orang yang tak tahu apa yang ia pelajari, apa kegunaan dari yang ia pelajari, dan apakah pembelajaran itu penting untuk kehidupan sehari-hari yang ia jalani?
Kita mengambil contoh sederhana ; Pendidikan Kewarganegaraan. Saya tidak tahu apakah semua orang mempelajari ini ketika sekolah. Tetapi mari kita jawab satu per satu.
Soal
|
Jawaban Saya
|
Jawaban Anda
|
1. Apa yang saya pelajari dari Pendidikan Kewarganegaraan?
|
Saya belajar tentang Negara dan membela Negara
|
?
|
2. Apa gunanya mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan?
|
Ini penting, sebagai warga Negara yang baik mengetahui negaranya sendiri
|
?
|
3. Apa praktek yang saya lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengamalkannya?
|
Banyak hal, salah satunya saya menghargai pilihan orang tua, kerabat, dan sahabat saya ketika ia memilih Capres yang berbeda dari pilihan saya.
|
?
|
Anda sudah menjawab?
Saya yakin banyak dari kalian yang benar-benar menjawabnya, namun banyak juga dari kalian yang tak menjawabnya, dan melanjutkan membaca. Tentu pertanyaan ini mudah untuk dijawab, tapi apakah kalian telah menjawabnya saat pertama kali diminta untuk belajar? Apakah saya sudah menjawabnya ketika saya belajar untuk pertama kalinya? Tidak.
Lalu apa gunanya semua pertanyaan-pertanyaan ini?


0 comments: